Dunia selalu tampak lebih cerah dari balik senyuman
- PENULIS TAK DIKENAL -
- PENULIS TAK DIKENAL -
Aku tidak tahu apa yanng akan terjadi pada hari itu. Aku pergi ke dokter gigi untuk membersihkan gigi secara rutin. Petugasnya ramah dan gembira seperti biasanya. setelah pembersihan, seperti biasanya pula aku pergi ke kamar mandi sebelum melakukan tugas lainnya.
Saat aku membuka pintu kamar mandi dan berjalan ke arah lobi, hal pertama yang aku sadari adalah ruangan itu sangat hening dan gelap. Pada mulanya aku pikir mungkin listrik sedang padam. Aku melangkah maju dan setengah berbisik, "halo" lalu mengucapkannya sekali lagi, "halo". Tidak ada jawaban. Saat itulah aku menyadari bahwa aku seorang diri dan kemungkinan besar petugasnya sedang keluar makan siang. Tidak masalah, pikirku. Aku akan keluar sendiri, terima kasih.
Ternyata pintu tidak mau membuka. Aku mencoba beberapa kali, tetapi masih tetap terkunci. Aku agak panik tetapi berpikir bahwa aku hanya perlu menyibukkan diri sampai mereka kembali. Bagaimanapun ini bukan situasi darurat. Aku memiliki apa yang kubutuhkan: sebotol air, dan kamar mandi ada di dekatku. Apa lagi yang aku butuhkan selain... mungkin sebotol sampanye sambil menunggu?
Aku menemukan tombol lampu, menyamankan diri di sofa ruang tunggu dan mengeluarkan semua album foto yang belum pernah kusentuh. Album yanng terdiri dari foto-foto pasien sebelum dan sesudah giginya diperbaiki, dari gigi miring, tidak rata atau berwarna menjadi gigi yang lurus, putih, dan berkilauan. Saat membolak-balik halaman mengamati perubahan pada orang-orang, muda dan tua, pria dan wanita, aku mulai bertanya-tanya tentang arti senyum. Aku tau apa kata orang tentang mata, mereka adalah jendela jiwa. Bagaimana dengan senyum?
Aku memperhatikan bahwa semua orang yang giginya telah diperbaiki mengatakan bahwa itu sangat meningkatkan kepercayaan diri mereka. Aku bertanya-tanya bagaimana itu terjadi. Ketika tersenyum pada seseorang, kita tidak bisa melihat senyum kita...kecuali kita melihat senyum kita terpantul kembali kepada kita melalui wajah seseorang. Jadi, pikirku, senyum meringankan semangat penerima, jika mereka terbuka untuk itu. Paling sedikit itulah yang kurasakan ketika seseorang tersenyum kepadaku. Ketika membalas kepada pengirimnya, senyum adalah suatu pesan kehangatan yang disepelekan oleh sebagian besar dari kita.
Aku mulai memikirkan semua senyum yang tak terlupakan di dalam hidupku. Aku memejamkan mata dan menunggu senyuman itu muncul di benak.
Senyum tak terlupakan yang pertama adalah senyuman putraku pada usia sembilan bulan, di hari pertama dia mulai berjalan. Itulah senyum yang sangat menghibur, seakan-akan senyum itu digambar dengan krayon di wajahnya. Jelas bahwa dia sangat senang (dan terkejut) akan kemampuan barunya. Aku tidak akan pernah melupakannya.
Senyum berikutnya yang muncul di benak adalah senyum nenekku saat dia berdiri di ambang pintu dapurnya, menunggu kami tiba setelah beberapa jam di perjalanan, siap untuk mengisi perut kami yang kelaparan dengan tortilla, kacang merah, nasi, dan salsa lezat buatannya sendiri yang tidak bisa ditiru oleh restoran mana pun. Dia mengenakan celemek bertepian biru yang diikat ketubuhnya dan gaun bermotif bunga berkancing depan, rambutnya bergelombang diselang-selingi uban dan kami sangat senang menyentuhnya.
Senyum terakhir yang muncul ke permukaan adalah senyum pucatku sendiri di cermin di tengah malam. Aku baru mengalami kemoterapi untuk kanker payudara dan telah gundul selama lebih dari enam bulan. Aku tidak punya bulu mata maupun alis. Siapa yang mengira hal-hal kecil seperti itu ternyata berarti besar disaat krisis? Sering aku terbangun dan memandang mata serta alisku, memeriksa tanda-tanda rambut disana. Saat tidak ada, biasanya aku menangis sampai tertidur.
Tetapi suatu malam, seperti biaasa aaku memegang kaca pembesar dan melihat sepucuk kecil rambut di kelopak mataku. Rambut itu begitu kecil, begitu rapuh; warnanya putih dikemunculannya yang samar-samar. Aku sedikit mundur dan tersenyum kepada diriku sendiri. Aku melihat senyumku di cermin. Itu adalah senyum lega. Malam itu aku menangis sampai tertidur, tetapi kali ini adalah airmata bahagia.
Ketika terbangun dari lamunanku tentang senyum, aku sadar bahwa hampir saat setengah jam telah berlalu. Dengan mengetahui bahwa setiap saat aku bisa mengangkat telepon dan menelepon 911, situasi yang kuhadapi tampaknya lebih menarik. Aku berjalan keliling bertanya-tanya apakah mereka punya lemari pendingin. Aku memasuki sebuah ruang kecil dan menemukan sepotong kue brownies. Bukan makanan yang buruk untuk kejutan terkunci di kantor dokter gigi! (Bisa menjadi alasan yang bagus untuk langgar dietku). Terima kasih Tuhan untuk berkat-berkat kecil ini! Aku masih berpikir bahwa mungkin akan menyenangkan jika ada sampanye ketika aku mendengar suara pintu mobil ditutup di depan. Aku melihat keluar dan melihat dokter gigiku bersama stafnya muncul dari dua mobil dan menuju kantor.
Ketika dokter gigi membuka pintu, senyumnya menghilang saat dia melihat aku duduk di ruang tunggu sambil membolak-balik majalah seakan-akan aku sedang menunggu dipanggil. Diperlukan beberapa detik sebelum dia menyadari apa yang telah terjadi.
Seluruh staf membuntut di belakangnya dan berhenti mendadak di pintu, dan ketika mereka sadar bahwa aku terkunci di kantor selama mereka pergi, mereka berulang-ulang meminta maaf. Saat tenang yang sungguh indah, kataku memikirkan arti senyum dan bahwa mungkin aku akan menulis kisah tentangnya.
Sementara para staf masih agak bingung dan berulang-ulang meminta maaf, aku menyadari bahwa aku merasa sangat gembira untuk tetap tersenyum. Ketika akhirnya aku bisa membuat mereka tertawa, aku berjalan menuju pintu, melanjutkan tugas-tugasku.
Aku sedang berpikir bahwa ketidaknyamanan sehari-hari bisa mengubah diri menjadi peluang yang langka jika kita tetap terbuka kepada mereka.
Saat itulah aku melihat sebuah hiasan di dinding yang bertuliskan: "Sebuah senyum berlalu dalam sekilas, tetapi ingatan akan senyum itu bertahan sepanjang masa". Tulisan itu benar sekali, pikirku saat berjalan keluar pintu... sungguh-sungguh benar.
Sumber: Chicken Soup for the Soul
Tidak ada komentar:
Posting Komentar