Menanti dengan Senyum

Selasa, 07 Oktober 2014

Dunia selalu tampak lebih cerah dari balik senyuman
- PENULIS TAK DIKENAL -


Aku tidak tahu apa yanng akan terjadi pada hari itu. Aku pergi ke dokter gigi  untuk membersihkan gigi secara rutin. Petugasnya ramah dan gembira seperti biasanya. setelah pembersihan, seperti biasanya pula aku pergi ke kamar mandi sebelum melakukan tugas lainnya.
   Saat aku membuka pintu kamar mandi dan berjalan ke arah lobi, hal pertama yang aku sadari adalah ruangan itu sangat hening dan gelap. Pada mulanya aku pikir mungkin listrik sedang padam. Aku melangkah maju dan setengah berbisik, "halo" lalu mengucapkannya sekali lagi, "halo". Tidak ada jawaban. Saat itulah aku menyadari bahwa aku seorang diri dan kemungkinan besar petugasnya sedang keluar makan siang. Tidak masalah, pikirku. Aku akan keluar sendiri, terima kasih.
   Ternyata pintu tidak mau membuka. Aku mencoba beberapa kali, tetapi masih tetap terkunci. Aku agak panik tetapi berpikir bahwa aku hanya perlu menyibukkan diri sampai mereka kembali. Bagaimanapun ini bukan situasi darurat. Aku memiliki apa yang kubutuhkan: sebotol air, dan kamar mandi ada di dekatku. Apa lagi yang aku butuhkan selain... mungkin sebotol sampanye sambil menunggu?
   Aku menemukan tombol lampu, menyamankan diri di sofa ruang tunggu dan mengeluarkan semua album foto yang belum pernah kusentuh. Album yanng terdiri dari foto-foto pasien sebelum dan sesudah giginya diperbaiki, dari gigi miring, tidak rata atau berwarna menjadi gigi yang lurus, putih, dan berkilauan. Saat membolak-balik halaman mengamati perubahan pada orang-orang, muda dan tua, pria dan wanita, aku mulai bertanya-tanya tentang arti senyum. Aku tau apa kata orang tentang mata, mereka adalah jendela jiwa. Bagaimana dengan senyum?
   Aku memperhatikan bahwa semua orang yang giginya telah diperbaiki mengatakan bahwa itu sangat meningkatkan kepercayaan diri mereka. Aku bertanya-tanya bagaimana itu terjadi. Ketika tersenyum pada seseorang, kita tidak bisa melihat senyum kita...kecuali kita melihat senyum kita terpantul kembali kepada kita melalui wajah seseorang. Jadi, pikirku, senyum meringankan semangat penerima, jika mereka terbuka untuk itu. Paling sedikit itulah yang kurasakan ketika seseorang tersenyum kepadaku. Ketika membalas kepada pengirimnya, senyum adalah suatu pesan kehangatan yang disepelekan oleh sebagian besar dari kita.
   Aku mulai memikirkan semua senyum yang tak terlupakan di dalam hidupku. Aku memejamkan mata dan menunggu senyuman itu muncul di benak.
   Senyum tak terlupakan yang pertama adalah senyuman putraku pada usia sembilan bulan, di hari pertama dia mulai berjalan. Itulah senyum yang sangat menghibur, seakan-akan senyum itu digambar dengan krayon di wajahnya. Jelas bahwa dia sangat senang (dan terkejut) akan kemampuan barunya. Aku tidak akan pernah melupakannya.
   Senyum berikutnya yang muncul di benak adalah senyum nenekku saat dia berdiri di ambang pintu dapurnya, menunggu kami tiba setelah beberapa jam di perjalanan, siap untuk mengisi perut kami yang kelaparan dengan tortilla, kacang merah, nasi, dan salsa lezat buatannya sendiri yang tidak bisa ditiru oleh restoran mana pun. Dia mengenakan celemek bertepian biru yang diikat ketubuhnya dan gaun bermotif bunga berkancing depan, rambutnya bergelombang diselang-selingi uban dan kami sangat senang menyentuhnya.
   Senyum terakhir yang muncul ke permukaan adalah senyum pucatku sendiri di cermin di tengah malam. Aku baru mengalami kemoterapi untuk kanker payudara dan telah gundul selama lebih dari enam bulan. Aku tidak punya bulu mata maupun alis. Siapa yang mengira hal-hal kecil seperti itu ternyata berarti besar disaat krisis? Sering aku terbangun dan memandang mata serta alisku, memeriksa tanda-tanda rambut disana. Saat tidak ada, biasanya aku menangis sampai tertidur. 
   Tetapi suatu malam, seperti biaasa aaku memegang kaca pembesar dan melihat sepucuk kecil rambut di kelopak mataku. Rambut itu begitu kecil, begitu rapuh; warnanya putih dikemunculannya yang samar-samar. Aku sedikit mundur dan tersenyum kepada diriku sendiri. Aku melihat senyumku di cermin. Itu adalah senyum lega. Malam itu aku menangis sampai tertidur, tetapi kali ini adalah airmata bahagia.
   Ketika terbangun dari lamunanku tentang senyum, aku sadar bahwa hampir saat setengah jam telah berlalu. Dengan mengetahui bahwa setiap saat aku bisa mengangkat telepon dan menelepon 911, situasi yang kuhadapi tampaknya lebih menarik. Aku berjalan keliling bertanya-tanya apakah mereka punya lemari pendingin. Aku memasuki sebuah ruang kecil dan menemukan sepotong kue brownies. Bukan makanan yang buruk untuk kejutan terkunci di kantor dokter gigi! (Bisa menjadi alasan yang bagus untuk langgar dietku). Terima kasih Tuhan untuk berkat-berkat kecil ini! Aku masih berpikir bahwa mungkin akan menyenangkan jika ada sampanye ketika aku mendengar suara pintu mobil ditutup di depan. Aku melihat keluar dan melihat dokter gigiku bersama stafnya muncul dari dua mobil dan menuju kantor.
   Ketika dokter gigi membuka pintu, senyumnya menghilang saat dia melihat aku duduk di ruang tunggu sambil membolak-balik majalah seakan-akan aku sedang menunggu dipanggil. Diperlukan beberapa detik sebelum dia menyadari apa yang telah terjadi.
   Seluruh staf membuntut di belakangnya dan berhenti mendadak di pintu, dan ketika mereka sadar bahwa aku terkunci di kantor selama mereka pergi, mereka berulang-ulang meminta maaf. Saat tenang yang sungguh indah, kataku memikirkan arti senyum dan bahwa mungkin aku akan menulis kisah tentangnya.
   Sementara para staf masih agak bingung dan berulang-ulang meminta maaf, aku menyadari bahwa aku merasa sangat gembira untuk tetap tersenyum. Ketika akhirnya aku bisa membuat mereka tertawa, aku berjalan menuju pintu, melanjutkan tugas-tugasku. 
   Aku sedang berpikir bahwa ketidaknyamanan sehari-hari bisa mengubah diri menjadi peluang yang langka jika kita tetap terbuka kepada mereka.
   Saat itulah aku melihat sebuah hiasan di dinding yang bertuliskan: "Sebuah senyum berlalu dalam sekilas, tetapi ingatan akan senyum itu bertahan sepanjang masa". Tulisan itu benar sekali, pikirku saat berjalan keluar pintu... sungguh-sungguh benar.

Sumber: Chicken Soup for the Soul

Menari di Tengah Hujan

Kamis, 08 Mei 2014

Orang yang mengatakan matahari mendatangkan kebahagiaan adalah orang yang tidak pernah menari di tengah hujan.

- PENGARANG TAK DIKENAL -



Aku dan suamiku baru saja selesai makan malam di restoran setempat dan kami berjalan-jalan melewati toko-toko di pusat perbelanjaan di sebelahnya. Kami memasuki toko kerajinan tangan dengan harapan bisa menemukan berbagai hadiah Natal di saat-saat terakhir. Wewangian sabun dan potpouri menggoda indra penciuman saat kami berjalan memasuki toko.
    Ada banyak benda yang bisa dilihat. Semua rak dan dinding dipenuhi dengan karya kerajinan tangan. Ketika berjalan-jalan di dalam toko, aku melihat sebuah papan kayu yang menggantung sederhana di dinding. Aku menoleh untuk mencermatinya dan aku ingat aku menganggukan kepala "ya" untuk pesan yang tertulis pada papan itu. Aku melanjutkan berjalan dan menikmati benda-benda lain, tetapi menemukan diriku terus tertarik kepada papan kayu itu.
    Berdiri di depan papan itu, aku merasa seperti anak kecil yang menemukan harta karun tak terduga di dalam kotak bermain pasir--sebuah koin atau mainan yang pernah hilang. Di sana, di antara benda-benda kerajinan lain, aku menemukan harta karun yang sangat sederhana, namun sangat bermakna, tersembunyi di dalam sebuah pesan. Pesan yang kubutuhkan. 
    "Hidup bukanlah tentang menunggu badai berlalu," kata papan itu, "tetapi tentang belajar menari di tengah hujan."
    Ketika aku menarik suamiku dan menunjukkan papan itu kepadanya, aku bisa melihat bahwa dia juga menghargai pelajaran sederhana yang tertulis di sana. Betapa seringnya kita mengajukan syarat untuk kebahagiaan kita. Jika rumah sudah lunas, kita akan bahagia. Ketika urusan anak-anak sudah beres, baru kita bisa melakukan sesuatu bersama-sama. Begitu sedikit kegembiraan untuk "di sini dan di saat kini" di tengah ketidakpastian "jika" dan "nanti".
    Saat memandangi papan itu, aku teringat akan suatu hari yang panas dan lembab di musim panas sebelumnya, ketika tanpa sengaja aku "menghidupi" pesan yang ada pada papan itu. Awan gelap telah bergulung-gulung di kaki Pegunungan Rockies, awan yang telah jenuh uap air. Gerimis mulai turun di senja hari, berkembang menjadi hujan deras yang membanjiri selokan, lalu berpindah ke tempat lain secepat kedatangannya. 
    Gerimis masih turun ketika aku berjalan ke kotak surat di luar. Air masih membanjiri selokan. Aku tidak tahu apa yang mendorongku, tetapi tiba-tiba aku ingin melakukan sesuatu yang agak gila diusiaku yang di atas lima puluh tahun.
    Aku membuka sepatu dan stocking, dan mulai berjalan telanjang kaki di genangan air. Air itu nyaman dan hangat, dihangatkan oleh trotoar yang telah dipanggang matahari musim panas.
    Aku yakin para tetanggaku akan menggangapku sudah kehilangan kewarasanku, tetapi aku tidak peduli. Karena untuk sesaat, aku merasa sangat hidup. Aku tidak mencemaskan tagihan, masa depan, atau kekhawatiran sehari-hari. Aku sedang mengalami sebuah karunia--saat gembira yang murni dan sederhana!
    Sekarang papan kayu itu, hadiah Natal dari suamiku itu, menggantung di ruang tengah. Setiap hari, puluhan kali aku melewatinya dan sering kali aku berhenti sejenak untuk bertanya kepada diri sendiri, "Jadi, apakah aku sedang menari di tengah hujan?"
    Sepertinya ya. Paling sedikit aku coba melakukannya. Yang pasti, aku lebih berkomitmen meluangkan waktu untuk sejenak dan mengenali serta bersyukur untuk berkat berlimpah yang mengitariku--kegembiraan-kegembiraan kecil yang terlalu sering terabaikan di dalam upayaku mengejar kebahagiaan di masa depan. Aku merayakan rahmat-rahmatku, di antaranya seorang putra berkebutuhan khusus yang sedang belajar mengemudikan mobil seorang diri, cinta dari para sahabat dan keindahan musim semi. Ya, selangkah demi selangkah, aku belajar untuk menari di tengah hujan!

Sumber: Chicken Soup for the Soul
   

Hari Ini Aku Merasa Seperti di Neraka

Rabu, 30 April 2014

Hanya karena kita merana itu tidak berarti kita tidak bisa menikmati hidup.

- ANNETTE GOODHEART -



Sikap positif? Yang benar saja. Kau pasti hanya main-main, pikirku, saat kakakku mengulang ceritanya tentang pria yang hebat ini--yang mulai sekarang disebut sebagai Oliver Sang Optimis--yang mengalami multipel sklerosis tetapi memiliki pandangan yang cerah terhadap dunia.
    "Kau tidak akan pernah tahu bahwa dia menderita MS," kata kakakku. "Dia memiliki sikap yang terbaik, berolahraga, bekerja keras, dan benar-benar hebat. Dia bisa mengelola MS-nya."
    Aku melongo, bukan secara harafiah, tetapi di dalam hati. Kakakku pastilah tidak waras mengusulkan hal gila seperti itu--mengusulkan Oliver Sang Optimis ini sebagai sumber ilhamku.
    Baru didiagnosa MS, baru berhenti dari olahraga pagi setiap hari, menggendong dua anak balita sekaligus, dan bekerja paruh waktu di University of Pittburgh, hanya dalam waktu dua minggu, aku harus turun meluncur menuruni tangga dengan dua anak dipangkuan agar aku tidak jatuh. Dengan tubuh yang begitu mati rasa aku tidak bisa merasakan tombol-tombol papan ketik untuk mengetik atau memberitahumu apakah tanganku menyandar di paha atau di lengan kursi kecuali aku memandanginya. Aku tidak tergugah oleh cerita kakakku.
    Aku marah pada apa yang terjadi padaku. Kakakku yang baik hati hanya mencoba membantuku melihat sisi terang. Dan dia bukan satu-satunya. Dengan berjalannya hari, aku diperkenalkan kepada para penderita MS lain--setiap orang mengenal seseorang yang menderita MS dan setiap orang mencelotehkan kisah tentang bagaimana orang-orang ini menghadapi penyakitnya dengan setabah orang-orang suci, malaikat, atau peri dongeng.
    Ketika aku tertatih-tatih pulang setelah mendengar salah satu kisah penuh ketabahan dalam menghadapi penyakit yang memakan selaput myelin ini, aku bertanya-tanya mengapa aku tidak bisa melihat kemudahan, kegembiraan, atau kepuasan seperti itu di dalam hidupku sendiri.
    Jujur saja, semua itu memuakkan.
    Lalu ada situasi di mana aku bertemu dan menghabiskan waktu bersama orang-orang yang lebih parah dariku. Berdasarkan reputasiku untuk merasa muak mendengar kisah Polly yang Positif atau Oliver Sang Optimis, mungkin kau berpikir bahwa aku dapat menemukan sejumput kebahagiaan di tengah kehadiran orang-orang yang memiliki sudut pandang yang negatif atau yang lumpuh parah.
    Tetapi situasi-situasi itu membuatku sangat takut dan malu karena pemandangan itu tidak membangkitkan belas kasih di dalam hatiku, dan aku malah berpikir, "Aku tidak akan bisa hidup seperti itu jika aku seperti dia."
    Aku ingin menjalani hidupku sama seperti tiga dekade sebelumnya, dengan caraku sendiri. Tetapi aku tidak bisa tidur karena ketidaknyamanan di tangan dan kakiku, yang berubah-ubah dari mati rasa dan kesemutan sampai nyeri yang sangat menyakitkan sehingga menggunakan kaus kaki saja terasa seperti berjalan di atas paku. Aku memiliki kecemasan dan dua anak kecil yang tidak pernah tidur nyenyak semalam suntuk dan tidak pernah bisa bangun di saat yang sama di malam hari. Dipikir-pikir, aku menjalani enam tahun dengan hanya memiliki 48 jam tidur REM.
    "Yang terbaik yang bisa Anda lakukan untuk diri Anda adalah banyak istirahat," kata dokter spesialis syarafku. Aku terkikik, pasti aku dianggap tidak waras.
    "Hanya itu? Hanya itu obatku? Obat-obat yang menimbulkan gejala mirip flu dan istirahat? Tolonglah, dokterku yang baik, perkenankan aku menjelaskan seperti apa hidupku."
    Jadi, aku melanjutkan, secara rinci, tentang bagaimana istirahat tidak akan menjadi tamu di rumahku.
    Kemudian aku menunggu. Aku menunggu dia mengekuarkan arsip tebal, penuh dengan kisah penderita lain (Oliver Sang Optimis dan Polly yang Positif juga pasiennya) yang hidup dengan hebat bersama MS, aku menunggu dia menggarisbawahi betapa beruntungnya aku memiliki derajat gejala yang kualami, bahwa aku harus menyadari betapa keadaan bisa lebih buruk lagi.
    Tetapi dia mengeluarkan sebuah kotak dari laci dan mencabut tisunya dan menyerahkan kepadaku. Dia menjulurkan lengannya ke arahku, seakan-akan dia adalah teman yang sangat tulus, dia berkata, "Ini memang menyebalkan bukan? Ini adalah hal terburuk yang bisa saya bayangkan. Saya bisa melihat betapa beratnya semua ini, bahwa hidup saya terjungkir balik. Saya bisa berpura-pura tahu bagaimana rasanya semua ini, tetapi saya bisa memberitahu bahwa ada banyak yang bisa dilakukan. Kita akan mencoba segala sesuatu sampai Anda bisa mengelola hidup yang Anda inginkan. Tetapi, ya, untuk saat ini semua memang menyebalkan."
    Itulah pertama kalinya ada seseorang yang tidak mencoba membuatku betapa egoisnya aku karena tidak menghargai bahwa keadaan bisa lebih buruk lagi. Dia adalah orang pertama yang tidak menceritakan kisah-kisah hebat dari orang-orang yang menjalani hidup bersama MS seakan-akan mereka tidak memiliki MS.
    Aku tahu betapa buruk kedengarannya semua itu, betapa buruknya diriku pada saat itu, tetapi kata-kata dokter itu membebaskan aku dari argumen yang kumiliki dengan diriku sendiri dan orang lain tentang cara menjalani hidup bersama penyakit ini.
    Aku menyadari bahwa meskipun aku tidak tersentuh oleh kisah Oliver Sang Optimis, sebenarnya aku adalah orang yang optimis. Mungkin aku bergerak lebih lambat dibandingkan orang lain, tubuhku berubah ke arah yang buruk, dan pada beberapa hari, yang bisa kulakukan hanyalah memberi makan anak-anakku dan berbaring di lantai serta membaca bersama mereka. Aku tidak bisa menghadiri semua kegiatan ibu-ibu di komunitas kami karena terkadang aku tidak mampu melakukan apa pun kecuali merawat anak-anak. Tetapi setiap hari aku bangun dan berpikir "hari ini adalah hari aku merasa seperti dulu; aku akan melakukan segala sesuatu yang ingin kulakukan," dan setiap hari ketika itu tidak terjadi, aku merumus-ulang apa yang kuanggap sebagai "segala sesuatu yang ingin kulakukan."
    Aku berhenti menyembunyikan kenyataan bahwa aku merasa seperti di neraka. Jika seseorang menanyakan perasaanku, aku akan berkata, "Aku merasa seperti di neraka." Dan mereka akan memalingkan wajah, sepersekian detik itu mengungkapkan ketidaknyamanan mereka dengan kekesalanku. Lalu aku menambahkan, "Tetapi aku baik-baik saja. Akku sudah terbiasa merasa seperti itu. Tadi kami pergi ke toko dan bermain di rumah. Itu saja.dan itu adalah hari yang baik."
    Dan meski aku tahu bahwa itu bukanlah pencapaian yang hebat, tetapi aku bersungguh-sungguh. Aku mulai memahami Oliver Sang Optimis dan Polly Si Positif. Menjadi orang yang positif bukanlah dibentuk oleh kata-kata yang keluar dari mulut seseorang, tetapi dari bagaimana mereka menghadapi hidup. Dengan mengakui bahwa segalanya menyebalkan, kemudian seseorang akan dapat mengendalikan reaksinya. Menjadi orang optimis atau penuh harapan, atau bahagia di hadapan sesuatu yang buruk, memerlukan orang untuk berendam di dalam keburukan itu, memerlukan orang yang bisa menamai keburukannya, untuk memaparkan segala keburukannya itu, agar orang bisa benar-benar bangkit darinya.

Sumber: Chicken Soup for the Soul

Rumput Liar

Selasa, 29 April 2014

Di mata seorang anak, tidak ada tujuh keajaiban dunia.

Yang ada adalah tujuh juta.

- WALT STREIGHTIFF -



Putriku Kristina yang berusia empat tahun dan aku terlambat lagi. Aku telah mengemudikan minivan biru pudarku dengan secapat mungkin sejauh lalu lintas di kota kami memungkinkan, tetapi kami masih terkena macet di setiap lampu merah dan tidak cukup cepat melewati perempatan jalan terakhir untuk mengalahkan bus-bus sekolah yang keluar dari tempat parkir sekolah. Jadi kami duduk di sana, lama sekali.
    Lalang rumput di sisi kami sedang menjadi lautan dandelion--bukan bunga-bunga kuning, tetapi bunga-bunga bulu putih.
    Aku berkata, "Oh Kristina, kasihan kebun itu... semuanya rumput liar," dan dia menjawab, "Oh, Mommy, lihat semua harapan itu!"

Sumber: Chicken Soup for the Soul

Hanya Sekali Lagi

Sabtu, 26 April 2014

Kekuatan ada di dalam jiwa dan semangat, bukan di otot.

- ALEX KARRAS -

 


"Baiklah, Beth, sekali lagi, hanya satu kali lagi."
    Aku terengah-engah melakukan satu sit up lagi, wajah memerah dan kelelahan, kemudian roboh terlentang ke tikar dan memandangi langit-langit. Terapis fisikku membungkuk ke arahku, dengan wajah tersenyum dan tangan direntang, menunggu aku mengangkat lengan dan menepuk telapak tangannya.
    "Aku tidak bisa," kataku, "Tunggu sebentar."
    Saat memandang cat yang mengelupas di langit-langit ruang terapi fisikku, aku bertanya-tanya lagi bagaimana aku bisa sampai ke titik ini. Lima sit up? Aku hanya bisa menyelesaikan lima sit up tanpa harus berhenti dan istirahat? Apa yang telah terjadi pada gadis yang bisa berenang lima kilometer sekaligus? Apa yang telah terjadi pada perempuan yang berlatih yoga beberapa kali dalam seminggu? Apa yang telah terjadi pada ibu periang yang akan berjalan selama satu jam ke kantor hanya karena matahari sedang cerah?
    "Dia sudah pergi," kata terapis fisikku dengan lembut, simpati, bersinar dari wajahnya yang ramah. "Siapa pun kau yang dulu, dia sudah pergi. Kau harus berkonsentrasi pada siapa dirimu saat ini."
    Memejamkan mata erat-erat untuk menahan air mata, aku menarik napas dalam dan bau keringat basi serta antiseptik menusuk hidungku. Aku menghembuskan napas perlahan-lahan, gemetar, diafragmaku memprotes bahkan hanya untuk penggunaan sebesar ini saja.
    Aku tidak ingin menjadi diriku saat ini. Aku tidak ingin mengalami myasthenia gravis (MG), suatu bentuk distrofi otot yang langka yang menyebabkan kelemahan otot. Pada kasusku, kondisi ini dimulai dengan kelopak mata yang melorot, kemudian mengenai lengan sampai aku tidak bisa mencuci rambut tanpa menjadi lemas dan akhirnya menyerang tungkai kaki sampai aku tidak bisa menaiki tangga. Aktifitas fisik untuk bersenang-senang pun sekedar menjadi bagian dari masa lalu dan "kebugaran" hanya berarti sejumput kecil latihan masa lalu yang masih bisa kulakukan di saat kini.
    Dengan menarik napas, aku menggulirkan tubuh ke samping, mendorong dengan satu lengan dan pada akhirnya mengangkat diri ke posisi duduk. Aku menjulurkan tangan dan menepuk telapak tengan terapisku. Dia tersenyum untuk kenyataan bahwa paling sedikit aku masih mencoba.
    "Mungkin kedengarannya menyedihkan, tetapi aku tidak ingin menjadi diriku saat ini," kataku mengakui untuk pertama kalinya sejak diagnosaku.
    "Aku tahu," katanya sederhana, "Mudah-mudahan kau terbantu untuk mengingat bahwa kebugaran bukanlah suatu kompetisi. Mulai dari sekarang kau harus membandingkan dirimu dengan dirimu sendiri, itu saja. Jika bisa melakukan lima sit up pada hari ini, besok kau harus mencoba enam sit up. Jika bisa berjalan selama sepuluh menit hari ini, besok kau harus mencoba berjalan sebelas menit."
    Aku mengangguk, mengetahui bahwa apa yang dia katakan itu penting. Tetapi jauh di kedalaman ada seorang anak kecil yang ingin bertepuk tangan di telinganya dan bernyanyi, "Aku tidak bisa mendengarmu! Aku tidak bisa mendengarmu!"
    Kami menyelesaikan sesi latihan hari itu dan aku menyimpan baik-baik nasihatnya untuk berbulan-bulan mendatang, terutama setelah aku harus mendapatkan sternotomi total untuk mengeluarkan kelenjar timus yang membesar dalam usaha meredakan MG. Setelah pembedahan aku melantunkan, "hanya sekali lagi, hanya sekali lagi" saat aku berjuang keras meletakkan satu kaki di depan kaki lainnya, mengisris makananku sendiri dan akhirnya menaiki tangga. Ketika pembedahan tidak menghasilkan perubahan yang diinginkan, aku melantunkan, "hanya sekali lagi, hanya sekali lagi" saat aku belajar berjalan dengan tongkat, dan kemudian tongkat penyangga. Ini semua bukanlah yang kuinginkan, malah sebenarnya aku sangat marah bahwa berjalan saja sudah membuat kakiku lemah dan pada hari-hari panas, berjalan singkat ke toko di sudut jalan bisa membuatku berkeringat seperti habis berlari panjang. Tetapi setiap kali ingin berhenti, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan melakukan satu kali lagi, dan di sebagian besar waktu, aku melakukan lebih banyak dari itu sebelum akhirnya aku berhenti.
    Sekarang setelah aku menyesuaikan diri untuk hidup dengan lebih perlahan, ada hari-hari di mana aku masih merasa kesal dengan seberapa banyak yang tidak bisa kulakukan. Sesekali aku memperhatikan orang menari, berlari, berenang, atau bahkan menggendong bayi dan mau tidak mau aku membandingkan fisikku dengan mereka. Kemudian aku mendengar suara terapis fisikku yang mengatakan bahwa kebugaran bukanlah suatu kompetisi dan aku hanya perlu memikirkan diriku sendiri. Aku masih bisa berjalan dan sedikit menari, aku bisa berenang dengan caraku sendiri, dan aku bisa menggendong bayi untuk beberapa waktu. Mungkin aku tidak sesehat atau sebugar orang lain, tetapi aku masih berkomitmen untuk menjadi sesehat mungkin sejauh kemampuanku, untuk melakukan satu kali lagi dari apa pun yang perlu kulakukan.
    Hanya sekali lagi. Itu tidak banyak, tetapi sangat-sangat penting.

Sumber: Chicken Soup for the Soul

Sebuah Langkah yang Sangat Kecil

Aku selalu menempel tulisan di kamar mandi di kostku dengan tulisan-tulisan, "Mohon disiram dengan bersih setelah menggunakan toilet", atau "Jangan menggunakan alas kaki saat masuk kamar mandi", atau "Mohon dipel saat ada air menggenang di depan pintu kamar mandi setelah menggunakannya". Begitu banyak tulisan yang aku tempel karena kebetulan kamarku terletak persis di samping kamar mandi dan depan kamarku berhadapan dengan pintu kamar mandi. Kadang aku merasa sangat terganggu saat mereka tidak memperhatikan kebersihan karena kamar mandi itu tak hanya digunakan untuk satu orang saja. 
    Tapi hari ini kuputuskan untuk melepas semua tulisan yang menempel itu dan menggantinya dengan tulisan "Terima kasih sudah ikut memperhatikan kebersihan kamar mandi dan menjaga kebersihan kost kita". ^_^

Setengah Penuh

Kamis, 24 April 2014

Setiap hari mungkin tidak selalu baik, tetapi ada sesuatu yang baik di setiap hari.

- PENULIS TAK DIKENAL -



Anak tengahku,  Jacob, adalah anak yang cerdas, semangat, dan tampan. Terlepas dari semua kelebihannya, dia memiliki kecenderungan yang menganggu untuk selalu melihat kehidupan sebagai cangkir setengah kosong. Setiap hari ketika pulang dari sekolah, Jake akan menceritakan semua hal buruk yang terjadi pada hari itu! Meski telah berusaha keras, aku tidak dapat meyakinkannya untuk membuang sikap negatif dan memilih untuk menghitung anugerahnya.
    Pada ulang tahunnya yang kesembilan, kami telah menabung cukup uang untuk membawa keluarga berlibur ke Disneyland selama dua hari. Pada saat itu, penghasilan ayahnya dan aku tidak terlalu besar, jadi itu sudah merupakan pengorbanan dari kami. Dan, kami rasa ulang tahun Jacob pantas dirayakan seperti itu. Setelah lelah seharian bermain di Disneyland, kami roboh di kamar hotel dan aku bertanya kepada anak kami yang berulang tahun, "Kau senang hari ini, Jake?" 
    Yang bisa dikatakan oleh putra kami, sang penemu kesalahan, hanyalah, "Pirates of the Caribbean-nya sudah tutup!"
    "Jacob Marshall," seruku, jelas tidak mampu menahan keputusasaanku, "kita mengantre satu setengah jam untuk melihat Rumah Hantu. Kita naik Gunung Angkasa tiga kali. Kita berjalan disana selama dua hari penuh, dan yang bisa kamu katakan hanyalah "Pirates of the Caribbean-nya tutup?" Jelas ada sesuatu yang perlu dilakukan untuk sekap negatifnya ini, dan akulah yang akan melakukannya!
    Aku menjalani misiku dengan keteguhan seorang komandan batalion. Aku membaca setiap artikel, membeli setiap buku. Jika saat itu sudah ada Internet, pasti aku sudah membuka Google selama berminggu-minggu untuk mencari senjata yang kuperlukan untuk mengalahkan negativitasnya.
    Dengan bantuan banyak sumber, aku mengembangkan strategiku. Beberapa buku kubaca mengenali putraku sebagai melankolis: Dia sensitif, artistik, mendalam, analitikal, dan bisa melihat yang terburuk di setiap situasi. Itu menggambarkan Jake dengan tepat.
    Pencarianku memberitahu bahwa orang-orang yang memiliki temperamen yang melankolis memiliki kebutuhan emosional akan keteraturan dan kepekaan. Itu berarti aku perlu mendengarkan rangkaian ucapan pesimis putraku dengan sabar. Biasanya reaksiku adalah mencoba mengeluarkan Jake dari negativitasnya, tetapi itu tidak memuaskan kebutuhannya akan kepekaan. Jadi, aku harus membiarkan dia menyelesaikan keluhannya dan bertanya, "Apa hal-hal bagus yang terjadi hari ini?" Kemudian aku harus menunggu sampai dia bisa mengatakan kepadaku--menunggu selama yang dia perlukan. Ini akan membantu Jacob menyadari bahwa hal-hal yang bagus benar-benar terjadi padanya, terlepas dari sudut pandangnya yang negatif.
    Tiba hari ketika aku siap mempratikkan strategiku. Jake pulang dari sekolah, duduk di tempat tidurnya seperti biasa dan mulai mendaftar hal-hal buruk yang terjadi di sekolah. Aku mendengarkan dengan cermat, melakukan kontak mata dan mengangguk dengan empatik, sebelum aku bertanya, "Apa hal-hal bagus yang terjadi hari ini, Jake?"
    Responnya seperti yang sudah kuduga, "Tidak ada."
    "Pasti ada sesuatu yang baik. Kau enam jam di sana." kataku mendorongnya. Kemudian aku menunggu lima belaas menit, bersikeras tetap di sana, jika perlu sepanjang malam, untuk menggeser paradigmanya.
    Pada akhirnya dia mengakui, "Aku boleh membersihkan penghapus papan tulis."
    "Sendirian?"
    "Tidak, bersama Brandon."
    "Sahabatmu?"
    "Ya."
    "Maksudmu kau boleh meninggalkan kelas dan membersihkan penghapus papan bersama sobatmu? Wah, kau anak yang beruntung, ya?"
    "Ya, aku rasa begitu," komentar Jake dengan kepala diangkat dan bahu dilebarkan.
    Percakapan ini memulai latihan harian kami. Aku tidak bisa menghitung sudah berapa kali kami mengulang ritual ini. Jacob mulai mengerti daya dari sudut pandang yang positif, tetapi jalan menuju ke sana terkadang lenyap baginya. Kemuadian aku mendorongnya untuk melihat segalanya secara berbeda, dan dia akan kembali ke jalan yang memilih hal positif dan membuang sikap negatif. Perjalanan itu tidak mudah, tetapi dia mengalami kemajuan.
    Tahun ajaran sekolah akan berakhir dan Hari Ibu sudah menjelang. Ayah Jake membawanya ke toko untuk mencari kartu Hari Ibu. Di samping cake yang telah disiapkan olehnya dan saudari-saudarinya, tergeletak kartu pilihannya. Dengan senyum lebar dia menyerahkannya. Di depan kartu tertulis:
    "Orang yang pesimis melihat cangkir setengah kosong.
    Orang optimis melihat cangkir setengah penuh."
    Aku membuka kartu dan membaca bagian dalamnya:
    "Tetapi Mom melihat cangkir sebagai suatu benda yang belum dicuci oleh orang yang tidak peka! Selamat Hari Ibu."
    Aku dan Jake tertawa sampai keluar air mata, dan pada saat itu, aku yakin bahwa kerja kerasku telah berbuah.

Sumber: Chicken Soup for the Soul