Setengah Penuh

Kamis, 24 April 2014

Setiap hari mungkin tidak selalu baik, tetapi ada sesuatu yang baik di setiap hari.

- PENULIS TAK DIKENAL -



Anak tengahku,  Jacob, adalah anak yang cerdas, semangat, dan tampan. Terlepas dari semua kelebihannya, dia memiliki kecenderungan yang menganggu untuk selalu melihat kehidupan sebagai cangkir setengah kosong. Setiap hari ketika pulang dari sekolah, Jake akan menceritakan semua hal buruk yang terjadi pada hari itu! Meski telah berusaha keras, aku tidak dapat meyakinkannya untuk membuang sikap negatif dan memilih untuk menghitung anugerahnya.
    Pada ulang tahunnya yang kesembilan, kami telah menabung cukup uang untuk membawa keluarga berlibur ke Disneyland selama dua hari. Pada saat itu, penghasilan ayahnya dan aku tidak terlalu besar, jadi itu sudah merupakan pengorbanan dari kami. Dan, kami rasa ulang tahun Jacob pantas dirayakan seperti itu. Setelah lelah seharian bermain di Disneyland, kami roboh di kamar hotel dan aku bertanya kepada anak kami yang berulang tahun, "Kau senang hari ini, Jake?" 
    Yang bisa dikatakan oleh putra kami, sang penemu kesalahan, hanyalah, "Pirates of the Caribbean-nya sudah tutup!"
    "Jacob Marshall," seruku, jelas tidak mampu menahan keputusasaanku, "kita mengantre satu setengah jam untuk melihat Rumah Hantu. Kita naik Gunung Angkasa tiga kali. Kita berjalan disana selama dua hari penuh, dan yang bisa kamu katakan hanyalah "Pirates of the Caribbean-nya tutup?" Jelas ada sesuatu yang perlu dilakukan untuk sekap negatifnya ini, dan akulah yang akan melakukannya!
    Aku menjalani misiku dengan keteguhan seorang komandan batalion. Aku membaca setiap artikel, membeli setiap buku. Jika saat itu sudah ada Internet, pasti aku sudah membuka Google selama berminggu-minggu untuk mencari senjata yang kuperlukan untuk mengalahkan negativitasnya.
    Dengan bantuan banyak sumber, aku mengembangkan strategiku. Beberapa buku kubaca mengenali putraku sebagai melankolis: Dia sensitif, artistik, mendalam, analitikal, dan bisa melihat yang terburuk di setiap situasi. Itu menggambarkan Jake dengan tepat.
    Pencarianku memberitahu bahwa orang-orang yang memiliki temperamen yang melankolis memiliki kebutuhan emosional akan keteraturan dan kepekaan. Itu berarti aku perlu mendengarkan rangkaian ucapan pesimis putraku dengan sabar. Biasanya reaksiku adalah mencoba mengeluarkan Jake dari negativitasnya, tetapi itu tidak memuaskan kebutuhannya akan kepekaan. Jadi, aku harus membiarkan dia menyelesaikan keluhannya dan bertanya, "Apa hal-hal bagus yang terjadi hari ini?" Kemudian aku harus menunggu sampai dia bisa mengatakan kepadaku--menunggu selama yang dia perlukan. Ini akan membantu Jacob menyadari bahwa hal-hal yang bagus benar-benar terjadi padanya, terlepas dari sudut pandangnya yang negatif.
    Tiba hari ketika aku siap mempratikkan strategiku. Jake pulang dari sekolah, duduk di tempat tidurnya seperti biasa dan mulai mendaftar hal-hal buruk yang terjadi di sekolah. Aku mendengarkan dengan cermat, melakukan kontak mata dan mengangguk dengan empatik, sebelum aku bertanya, "Apa hal-hal bagus yang terjadi hari ini, Jake?"
    Responnya seperti yang sudah kuduga, "Tidak ada."
    "Pasti ada sesuatu yang baik. Kau enam jam di sana." kataku mendorongnya. Kemudian aku menunggu lima belaas menit, bersikeras tetap di sana, jika perlu sepanjang malam, untuk menggeser paradigmanya.
    Pada akhirnya dia mengakui, "Aku boleh membersihkan penghapus papan tulis."
    "Sendirian?"
    "Tidak, bersama Brandon."
    "Sahabatmu?"
    "Ya."
    "Maksudmu kau boleh meninggalkan kelas dan membersihkan penghapus papan bersama sobatmu? Wah, kau anak yang beruntung, ya?"
    "Ya, aku rasa begitu," komentar Jake dengan kepala diangkat dan bahu dilebarkan.
    Percakapan ini memulai latihan harian kami. Aku tidak bisa menghitung sudah berapa kali kami mengulang ritual ini. Jacob mulai mengerti daya dari sudut pandang yang positif, tetapi jalan menuju ke sana terkadang lenyap baginya. Kemuadian aku mendorongnya untuk melihat segalanya secara berbeda, dan dia akan kembali ke jalan yang memilih hal positif dan membuang sikap negatif. Perjalanan itu tidak mudah, tetapi dia mengalami kemajuan.
    Tahun ajaran sekolah akan berakhir dan Hari Ibu sudah menjelang. Ayah Jake membawanya ke toko untuk mencari kartu Hari Ibu. Di samping cake yang telah disiapkan olehnya dan saudari-saudarinya, tergeletak kartu pilihannya. Dengan senyum lebar dia menyerahkannya. Di depan kartu tertulis:
    "Orang yang pesimis melihat cangkir setengah kosong.
    Orang optimis melihat cangkir setengah penuh."
    Aku membuka kartu dan membaca bagian dalamnya:
    "Tetapi Mom melihat cangkir sebagai suatu benda yang belum dicuci oleh orang yang tidak peka! Selamat Hari Ibu."
    Aku dan Jake tertawa sampai keluar air mata, dan pada saat itu, aku yakin bahwa kerja kerasku telah berbuah.

Sumber: Chicken Soup for the Soul
    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar