Hari Ini Aku Merasa Seperti di Neraka

Rabu, 30 April 2014

Hanya karena kita merana itu tidak berarti kita tidak bisa menikmati hidup.

- ANNETTE GOODHEART -



Sikap positif? Yang benar saja. Kau pasti hanya main-main, pikirku, saat kakakku mengulang ceritanya tentang pria yang hebat ini--yang mulai sekarang disebut sebagai Oliver Sang Optimis--yang mengalami multipel sklerosis tetapi memiliki pandangan yang cerah terhadap dunia.
    "Kau tidak akan pernah tahu bahwa dia menderita MS," kata kakakku. "Dia memiliki sikap yang terbaik, berolahraga, bekerja keras, dan benar-benar hebat. Dia bisa mengelola MS-nya."
    Aku melongo, bukan secara harafiah, tetapi di dalam hati. Kakakku pastilah tidak waras mengusulkan hal gila seperti itu--mengusulkan Oliver Sang Optimis ini sebagai sumber ilhamku.
    Baru didiagnosa MS, baru berhenti dari olahraga pagi setiap hari, menggendong dua anak balita sekaligus, dan bekerja paruh waktu di University of Pittburgh, hanya dalam waktu dua minggu, aku harus turun meluncur menuruni tangga dengan dua anak dipangkuan agar aku tidak jatuh. Dengan tubuh yang begitu mati rasa aku tidak bisa merasakan tombol-tombol papan ketik untuk mengetik atau memberitahumu apakah tanganku menyandar di paha atau di lengan kursi kecuali aku memandanginya. Aku tidak tergugah oleh cerita kakakku.
    Aku marah pada apa yang terjadi padaku. Kakakku yang baik hati hanya mencoba membantuku melihat sisi terang. Dan dia bukan satu-satunya. Dengan berjalannya hari, aku diperkenalkan kepada para penderita MS lain--setiap orang mengenal seseorang yang menderita MS dan setiap orang mencelotehkan kisah tentang bagaimana orang-orang ini menghadapi penyakitnya dengan setabah orang-orang suci, malaikat, atau peri dongeng.
    Ketika aku tertatih-tatih pulang setelah mendengar salah satu kisah penuh ketabahan dalam menghadapi penyakit yang memakan selaput myelin ini, aku bertanya-tanya mengapa aku tidak bisa melihat kemudahan, kegembiraan, atau kepuasan seperti itu di dalam hidupku sendiri.
    Jujur saja, semua itu memuakkan.
    Lalu ada situasi di mana aku bertemu dan menghabiskan waktu bersama orang-orang yang lebih parah dariku. Berdasarkan reputasiku untuk merasa muak mendengar kisah Polly yang Positif atau Oliver Sang Optimis, mungkin kau berpikir bahwa aku dapat menemukan sejumput kebahagiaan di tengah kehadiran orang-orang yang memiliki sudut pandang yang negatif atau yang lumpuh parah.
    Tetapi situasi-situasi itu membuatku sangat takut dan malu karena pemandangan itu tidak membangkitkan belas kasih di dalam hatiku, dan aku malah berpikir, "Aku tidak akan bisa hidup seperti itu jika aku seperti dia."
    Aku ingin menjalani hidupku sama seperti tiga dekade sebelumnya, dengan caraku sendiri. Tetapi aku tidak bisa tidur karena ketidaknyamanan di tangan dan kakiku, yang berubah-ubah dari mati rasa dan kesemutan sampai nyeri yang sangat menyakitkan sehingga menggunakan kaus kaki saja terasa seperti berjalan di atas paku. Aku memiliki kecemasan dan dua anak kecil yang tidak pernah tidur nyenyak semalam suntuk dan tidak pernah bisa bangun di saat yang sama di malam hari. Dipikir-pikir, aku menjalani enam tahun dengan hanya memiliki 48 jam tidur REM.
    "Yang terbaik yang bisa Anda lakukan untuk diri Anda adalah banyak istirahat," kata dokter spesialis syarafku. Aku terkikik, pasti aku dianggap tidak waras.
    "Hanya itu? Hanya itu obatku? Obat-obat yang menimbulkan gejala mirip flu dan istirahat? Tolonglah, dokterku yang baik, perkenankan aku menjelaskan seperti apa hidupku."
    Jadi, aku melanjutkan, secara rinci, tentang bagaimana istirahat tidak akan menjadi tamu di rumahku.
    Kemudian aku menunggu. Aku menunggu dia mengekuarkan arsip tebal, penuh dengan kisah penderita lain (Oliver Sang Optimis dan Polly yang Positif juga pasiennya) yang hidup dengan hebat bersama MS, aku menunggu dia menggarisbawahi betapa beruntungnya aku memiliki derajat gejala yang kualami, bahwa aku harus menyadari betapa keadaan bisa lebih buruk lagi.
    Tetapi dia mengeluarkan sebuah kotak dari laci dan mencabut tisunya dan menyerahkan kepadaku. Dia menjulurkan lengannya ke arahku, seakan-akan dia adalah teman yang sangat tulus, dia berkata, "Ini memang menyebalkan bukan? Ini adalah hal terburuk yang bisa saya bayangkan. Saya bisa melihat betapa beratnya semua ini, bahwa hidup saya terjungkir balik. Saya bisa berpura-pura tahu bagaimana rasanya semua ini, tetapi saya bisa memberitahu bahwa ada banyak yang bisa dilakukan. Kita akan mencoba segala sesuatu sampai Anda bisa mengelola hidup yang Anda inginkan. Tetapi, ya, untuk saat ini semua memang menyebalkan."
    Itulah pertama kalinya ada seseorang yang tidak mencoba membuatku betapa egoisnya aku karena tidak menghargai bahwa keadaan bisa lebih buruk lagi. Dia adalah orang pertama yang tidak menceritakan kisah-kisah hebat dari orang-orang yang menjalani hidup bersama MS seakan-akan mereka tidak memiliki MS.
    Aku tahu betapa buruk kedengarannya semua itu, betapa buruknya diriku pada saat itu, tetapi kata-kata dokter itu membebaskan aku dari argumen yang kumiliki dengan diriku sendiri dan orang lain tentang cara menjalani hidup bersama penyakit ini.
    Aku menyadari bahwa meskipun aku tidak tersentuh oleh kisah Oliver Sang Optimis, sebenarnya aku adalah orang yang optimis. Mungkin aku bergerak lebih lambat dibandingkan orang lain, tubuhku berubah ke arah yang buruk, dan pada beberapa hari, yang bisa kulakukan hanyalah memberi makan anak-anakku dan berbaring di lantai serta membaca bersama mereka. Aku tidak bisa menghadiri semua kegiatan ibu-ibu di komunitas kami karena terkadang aku tidak mampu melakukan apa pun kecuali merawat anak-anak. Tetapi setiap hari aku bangun dan berpikir "hari ini adalah hari aku merasa seperti dulu; aku akan melakukan segala sesuatu yang ingin kulakukan," dan setiap hari ketika itu tidak terjadi, aku merumus-ulang apa yang kuanggap sebagai "segala sesuatu yang ingin kulakukan."
    Aku berhenti menyembunyikan kenyataan bahwa aku merasa seperti di neraka. Jika seseorang menanyakan perasaanku, aku akan berkata, "Aku merasa seperti di neraka." Dan mereka akan memalingkan wajah, sepersekian detik itu mengungkapkan ketidaknyamanan mereka dengan kekesalanku. Lalu aku menambahkan, "Tetapi aku baik-baik saja. Akku sudah terbiasa merasa seperti itu. Tadi kami pergi ke toko dan bermain di rumah. Itu saja.dan itu adalah hari yang baik."
    Dan meski aku tahu bahwa itu bukanlah pencapaian yang hebat, tetapi aku bersungguh-sungguh. Aku mulai memahami Oliver Sang Optimis dan Polly Si Positif. Menjadi orang yang positif bukanlah dibentuk oleh kata-kata yang keluar dari mulut seseorang, tetapi dari bagaimana mereka menghadapi hidup. Dengan mengakui bahwa segalanya menyebalkan, kemudian seseorang akan dapat mengendalikan reaksinya. Menjadi orang optimis atau penuh harapan, atau bahagia di hadapan sesuatu yang buruk, memerlukan orang untuk berendam di dalam keburukan itu, memerlukan orang yang bisa menamai keburukannya, untuk memaparkan segala keburukannya itu, agar orang bisa benar-benar bangkit darinya.

Sumber: Chicken Soup for the Soul

Tidak ada komentar:

Posting Komentar