Hanya Sekali Lagi

Sabtu, 26 April 2014

Kekuatan ada di dalam jiwa dan semangat, bukan di otot.

- ALEX KARRAS -

 


"Baiklah, Beth, sekali lagi, hanya satu kali lagi."
    Aku terengah-engah melakukan satu sit up lagi, wajah memerah dan kelelahan, kemudian roboh terlentang ke tikar dan memandangi langit-langit. Terapis fisikku membungkuk ke arahku, dengan wajah tersenyum dan tangan direntang, menunggu aku mengangkat lengan dan menepuk telapak tangannya.
    "Aku tidak bisa," kataku, "Tunggu sebentar."
    Saat memandang cat yang mengelupas di langit-langit ruang terapi fisikku, aku bertanya-tanya lagi bagaimana aku bisa sampai ke titik ini. Lima sit up? Aku hanya bisa menyelesaikan lima sit up tanpa harus berhenti dan istirahat? Apa yang telah terjadi pada gadis yang bisa berenang lima kilometer sekaligus? Apa yang telah terjadi pada perempuan yang berlatih yoga beberapa kali dalam seminggu? Apa yang telah terjadi pada ibu periang yang akan berjalan selama satu jam ke kantor hanya karena matahari sedang cerah?
    "Dia sudah pergi," kata terapis fisikku dengan lembut, simpati, bersinar dari wajahnya yang ramah. "Siapa pun kau yang dulu, dia sudah pergi. Kau harus berkonsentrasi pada siapa dirimu saat ini."
    Memejamkan mata erat-erat untuk menahan air mata, aku menarik napas dalam dan bau keringat basi serta antiseptik menusuk hidungku. Aku menghembuskan napas perlahan-lahan, gemetar, diafragmaku memprotes bahkan hanya untuk penggunaan sebesar ini saja.
    Aku tidak ingin menjadi diriku saat ini. Aku tidak ingin mengalami myasthenia gravis (MG), suatu bentuk distrofi otot yang langka yang menyebabkan kelemahan otot. Pada kasusku, kondisi ini dimulai dengan kelopak mata yang melorot, kemudian mengenai lengan sampai aku tidak bisa mencuci rambut tanpa menjadi lemas dan akhirnya menyerang tungkai kaki sampai aku tidak bisa menaiki tangga. Aktifitas fisik untuk bersenang-senang pun sekedar menjadi bagian dari masa lalu dan "kebugaran" hanya berarti sejumput kecil latihan masa lalu yang masih bisa kulakukan di saat kini.
    Dengan menarik napas, aku menggulirkan tubuh ke samping, mendorong dengan satu lengan dan pada akhirnya mengangkat diri ke posisi duduk. Aku menjulurkan tangan dan menepuk telapak tengan terapisku. Dia tersenyum untuk kenyataan bahwa paling sedikit aku masih mencoba.
    "Mungkin kedengarannya menyedihkan, tetapi aku tidak ingin menjadi diriku saat ini," kataku mengakui untuk pertama kalinya sejak diagnosaku.
    "Aku tahu," katanya sederhana, "Mudah-mudahan kau terbantu untuk mengingat bahwa kebugaran bukanlah suatu kompetisi. Mulai dari sekarang kau harus membandingkan dirimu dengan dirimu sendiri, itu saja. Jika bisa melakukan lima sit up pada hari ini, besok kau harus mencoba enam sit up. Jika bisa berjalan selama sepuluh menit hari ini, besok kau harus mencoba berjalan sebelas menit."
    Aku mengangguk, mengetahui bahwa apa yang dia katakan itu penting. Tetapi jauh di kedalaman ada seorang anak kecil yang ingin bertepuk tangan di telinganya dan bernyanyi, "Aku tidak bisa mendengarmu! Aku tidak bisa mendengarmu!"
    Kami menyelesaikan sesi latihan hari itu dan aku menyimpan baik-baik nasihatnya untuk berbulan-bulan mendatang, terutama setelah aku harus mendapatkan sternotomi total untuk mengeluarkan kelenjar timus yang membesar dalam usaha meredakan MG. Setelah pembedahan aku melantunkan, "hanya sekali lagi, hanya sekali lagi" saat aku berjuang keras meletakkan satu kaki di depan kaki lainnya, mengisris makananku sendiri dan akhirnya menaiki tangga. Ketika pembedahan tidak menghasilkan perubahan yang diinginkan, aku melantunkan, "hanya sekali lagi, hanya sekali lagi" saat aku belajar berjalan dengan tongkat, dan kemudian tongkat penyangga. Ini semua bukanlah yang kuinginkan, malah sebenarnya aku sangat marah bahwa berjalan saja sudah membuat kakiku lemah dan pada hari-hari panas, berjalan singkat ke toko di sudut jalan bisa membuatku berkeringat seperti habis berlari panjang. Tetapi setiap kali ingin berhenti, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan melakukan satu kali lagi, dan di sebagian besar waktu, aku melakukan lebih banyak dari itu sebelum akhirnya aku berhenti.
    Sekarang setelah aku menyesuaikan diri untuk hidup dengan lebih perlahan, ada hari-hari di mana aku masih merasa kesal dengan seberapa banyak yang tidak bisa kulakukan. Sesekali aku memperhatikan orang menari, berlari, berenang, atau bahkan menggendong bayi dan mau tidak mau aku membandingkan fisikku dengan mereka. Kemudian aku mendengar suara terapis fisikku yang mengatakan bahwa kebugaran bukanlah suatu kompetisi dan aku hanya perlu memikirkan diriku sendiri. Aku masih bisa berjalan dan sedikit menari, aku bisa berenang dengan caraku sendiri, dan aku bisa menggendong bayi untuk beberapa waktu. Mungkin aku tidak sesehat atau sebugar orang lain, tetapi aku masih berkomitmen untuk menjadi sesehat mungkin sejauh kemampuanku, untuk melakukan satu kali lagi dari apa pun yang perlu kulakukan.
    Hanya sekali lagi. Itu tidak banyak, tetapi sangat-sangat penting.

Sumber: Chicken Soup for the Soul

Tidak ada komentar:

Posting Komentar