Aku selalu memilih mempercayai yang terbaik dari setiap orang, itu sangat menghemat masalah.
- RUDYARD KIPLING -
Ketika menghadiri Open House di sekolah putraku, aku memindai papan pengumuman di luar kelas satunya. Aku melihat karya Cody di tengah lautan kertas warna-warni yang direkat disana. Senyumku membeku.
Di dalam sebuah lingkaran seharusnya dia menulis atau menggambar apa yang tidak disukainya.
"MEN (pria)," tulisnya dalam huruf-huruf besar.
Uh oh, pikirku saat rasa takut mencengkam. Bagaimana Cody bisa tidak menyukai pria? Dia menyintai ayahnya! Apakah ada beberapa pria melakukan hal-hal buruk kepada anakku?!
"Cody," kataku dengan santai. "Bisa kau ceritakan tentang karyamu disini?"
"Ya," jawabnya, kemudian mengeja setiap kata dengan perlahan-lahan, "I... don't...like...mean". (Aku... tidak... suka... jahat).
Ini dunia bunyi, menulis kata seperti bunyinya.
Latihan ini memperjelas bagaimana anak-anak kita memandang dunia, yang dibagi menjadi dua kelas: baik dan buruk.
Bagi mereka tampang tidak menjadi masalah. Yang ada hanya baik dn buruk. Misalnya saja tetangga kami. Dia adalah orang yang baik, suka memberi hadiah kepada anak-anak ketika mereka berhak mendapatkannya. Dan berandalan di bus yang memukul perut Cody...
"Dia jahat, Bu!" tangis Cody. "Dia anak yang nakal!"
"Dia bukan anak yang nakal," jawabku, mengeringkan air matanya. "Tetapi PERBUATANNYA yang nakal. Jadi ada bedanya."
Itulah yang diajarkan oleh sebuah majalah. Dan itu masuk akal, kampanye massal ini bertujuan membuat kita "mendahulukan manusianya."
Orang dengan atau tanpa kecacatan.
Orang dengan atau tanpa penghasilan tetap.
Dengan atau tanpa rumah.
Dengan atau tanpa kebaikan.
Mendahulukan manusia.
Tetapi aku ragu apakah Cody memahami logikaku.
Sampai suatu sabtu pagi yang hangat.
Aku dan Cody tiba di restoran pizza di mana teman kelasnya, Kristi, merayakan ulang tahunnya.
"Cody!" teriak Kristi dengan gaun merah mudanya berjalan ke arah Cody, rambut pirangnya yang tebal dikepang satu. Dia begitu gembira saat memeluk Cody.
"Wah, Kristi," kataku, "kau cantik sekali!"
"Terima kasih," jawabnya sambil berputar. "Ayo kita main, Cody!"
Cody, yang tidak ragu meski dia adalah stu-satunya anak lelaki ditengah kerumunan tamu, dengan gembira berpindah dari satu permainan ke permainan lainnya, memasukkan tiketnya ke dalam mesin.
Ketika beberapa pizza diantar ke meja-meja yang dihias balon, Kristi sengaja meminta Cody untuk duduk di sebelahnya. Ketika Cody meminta lemonade merah muda, Kristi memberitahu pramusaji, dengan nada otoritas disuaranya, "Aku juga memesan apa yang dia pesan."
Ketika tiba waktunya membuka kado, dia mengumumkan, "Aku ingin lebih dulu membuka kado dari Cody!"
Cody menyerahkan kado kecilnya, sebuah mainan Ooglie berwarna merah jambu yang mengeluarkan suara lucu ketika orang menarik ekornya.
"Itu untuk tas sekolahmu," kata Cody malu-malu.
"Oh, aku suka sekali!" katanya gembira dan memeluk Cody. "Terima kasih".
Sementara semua orang makan kue, Kristi mendekatiku dan berkata, "Bu Oliver, setiap hari di sekolah, Cody selalu baik padaku. Dialah satu-satunya yang tidak pernah jahat padaku."
Aku menahan air mata. Bukan hanya karena gadis kecil itu cukup manis untuk memberitahuku kepekaan Cody kepada ibunya. Tetapi mengetahui betapa anak-anak bisa sangat kejam, terutama kepada gadis-gadis kurus yang memiliki tantangan
Hatiku terasa sakit oleh arus perasaan bangga yang tiba-tiba mengalir.
Yang bisa kupikirkan hanyalah, astaga, dia mengerti.
Cody mengerti.
Orangnya lebih dulu.
Sumber : Chicken Soup for the Soul
Tidak ada komentar:
Posting Komentar