Di Belokan

Selasa, 22 April 2014

Di kedalaman musim dingin akhirnya aku menemukan bahwa ada musim panas yang tidak bisa tergantikan di dalam diriku.

 - ALBERT CAMUS -


 Salju tiba lebih dini daripada yang diduga saat aku memasukkan barang belanjaan ke bagasi. Salju setinggi beberapa kaki telah menutup wilayah kami, dan badai baru ini adalah serangan badai lain yang ganas.
    "Mungkin ini akan menjadi badai abad ini," gumamku, menyalakan mesin mobil dan memikirkan beberapa tahun terakhir yang sulit. Aku telah melewati penyakit, kehilangan keuangan, dan kematian teman-teman, tetapi ada sesuatu yang lain yang menekanku--keputusasaan karena tujuan yang tak tercapai dan impian yang hancur berantakan. Dan sekarang, benih penyesalan, sesuatu yang tak kutanam di masa lalu, mulai bertunas.
    "Badai lagi." bisikku dengan suara keras, biasanya aku menikmati malam-malam musim dingin seperti ini. Tetapi malam itu, pikiranku terasa berat saat aku meluncur menuju rumah country-ku.
    Biasanya imanku positif, yang selalu memandang hidup sebagai sederet kesulitan untuk diatasi. Tetapi, beberapa tahun terakhir, kesulitan itu sepertinya tanpa akhir dan lebih sulit dihadapi. Meski aku menganggap diriku bisa menghadapi kesulitan dengan baik, aku tidak menyadari bahwa siriku yang sesungguhnya, yang gairah hidupnya telah mengilhami orang lain, telah kehabisan energi.
    Di tahun lalu, aku telah dihadapkan pada pilihan yang tak diharapkan. Dan dalam keadaan kacau, aku telah salah memilih, membuat kesalahan yang kritis. Sekarang aku takut memercayai kemampuan penilaianku, takut membuat keputusan, dan takut pada masa depan.
    Lampu mobil menyorot pagar putih rumahku. Aku mengendalikan mobil yang tergelincir dibelokan yang tajam, mendaki jalan menanjak menuju rumah, kemudian memarkir mobil dan mematikan mesin. Keluar dari mobil, aku mengangkat beberapa kantong belanjaan, menjatuhkan satu bungkus apel. Kantong plastiknya robek--dan apel-apel bergulingan ke salju. Memunguti buah-buah yang lebam itu dan memasukkannya ke saku, aku besyukur ketika Jeff, suamiku, bergegas keluar untuk menolong.
    "Aku senang kau sudah pulang." katanya. "Badai ini muncul lebih dini dari perkiraan, dan belokan di jalanan kita itu cepat membeku. Aku beerdoa agar kau ingat membelok dengan hati-hati."
    "Aku memang ingat," kataku, berpikir betapa aku sangat mengenal belokan itu dan berharap kalau saja aku mengetahui apa yang ada di belokan bagi masa depan kami... .
    Mata cokelat Jeff mengamatiku. "Kau baru menangis?"
    "Ini karena salju yang mencair," kelakarku, berusaha tersenyum.
    "Kau tidak harus kuat," katanya kemudian, setelah kami berada di dalam rumah.
    Tetapi aku harus kuat, pikirku. Terlalu banyak orang yang bergantung padaku, dan aku tidak bisa berbuat kesalahan lagi. Tetapi aku begitu lelah dan membutuhkan kejutan positif.
    Setelah membereskan belanjaan, aku dan anak-anak duduk di dekat perapian untuk memainkan permainan. Saat jam tidur tiba, aku berdoa bersama mereka di sisi tempat tidur mereka, dan kembali ke ruang bawah. Suamiku telah tertidur di sofa, dan aku menyelimutinya sebelum bergerak ke arah jendela untuk mengintip keluar. Salju putih berkilauan dengan latar belakang gelapnya malam.
    Aku memutuskan untuk berjalan di dunia kristal di luar, dan mengenakan mantel serta sepatu bot. Di luar, kakiku seperti menghilang di putihnya salju yang tebal saat berjalan di ladang yang bersalju ke arah hutan sekitar beberapa ratus meter di depan.
    Keheningan--damai yang hanya bisa diberikan oleh salju yang baru turun--mendorongku untuk menyerahkan beban-bebanku. Selama bertahun-tahun aku mengatakan kepada anak-anak bahwa selama hujan salju seperti inilah waktu berhenti.
    Entah di mana sepanjang perjalananku, aku menyadari bahwa aku menangis. Berhenti untuk menarik napas, aku merasa panik. Entah bagaimana aku telah berjalan keluar dari jejak jalan di rumahku yang kukenal. "Oh, tidak," gumamku, tidak yakin di mana aku berada. "Tolonglah aku, Tuhan."
    Ditengah hujan salju aku mencari tanda-tanda yang kukenal, tetapi tidak menemukannya. Itu simbolik dalam kehidupanku, berbuat kesalahan seperti berjalan di badai salju, dan tersesat. Aku tertatih-tatih diwilayah asing lagi, dan menderita menanggung akibatnya.
    Merasa lelah dan tak berdaya, aku roboh terduduk di tanah, menyandarkan kepalaku di atas lutut yang ditarik. Bermenit-menit berlalu, kemudian aku merasa lenganku disentuh. Perlahan-lahan aku mengangkat kepala dan terkesiap.
    Seekor rusa betina berdiri hanya beberapa centimeter darikku.Ia memandangku, kemudian mendengus--uap air menghembus dari hidungnya. Aku mengamatinya. Ia tampak lebih kurus daripada sebagian rusa yang pernag kulihat, dan ia sendirian--sesuatu yang aneh karena aku selalu melihat rusa berkelompok.
    Ayahku seorang pemburu berpengalaman, pernah memberitahu bahwa selama musim dingin yang hebat, rusa yang lapar akan mendekat mencari makan ke rumah penduduk. Mungkin ini adalah salah satu dari saat seperti itu.
    Takjub pada keindahannya, aku menunggu. Kegugupannya mengatakan bahwa sewaktu-waktu ia bisa melarikan diri, jadi mengapa ia mendekatiku? Hujan salju telah mereda dan keheningan yang damai seolah-olah mendorong saling percaya di antara aku dan makhluk yang misterius ini.
    Dia melangkah mendekat, jantungku berdebar-debar, kemudian ia menurunkan kepalanya dan menyentuh bagian kanan mantelku. Aku meraba saku dan menyadari bahwa masih ada apel yang tadi terjatuh dari kantong belanja. Aku menawarkannya pada rusa itu.
    Beberapa saat berlalu sementara ia mengamati apel dan aku. Aku tidak bisa percaya bahwa ini terjadi. Aku telah berjalan keluar jalur, tersesat, dan sekarang mengalami saat-saat luar biasa.
    "Kau telah memberiku apa yanng selama ini kuharapkan." kataku kepada teman baruku. "Ternyata, kesalahan bisa mendatangkan hasil yang positif." Seakan-akan ia telah menungguku untuk mengatakan itu, ia mengambil apel dengan mulutnya dan berlari menjauh ke kegelapan malam.
    "Terima kasih, Tuhan." bisikku, tiba-tiba merasa tidak takut saat aku berdiri. Aku terbungkus rasa hangat, tidak ada bahaya di dekatku, jadi aku memilih jalan yang paling logis untuk pulang ke rumah. Jika aku melakukan kesalahan arah lagi, mungkin keajaiban lain sedang menunggu di belokan.
    Sama seperti di dalam hidup, kataku kepada diri sendiri. Kesalahan, penyesalan, dan pilihan yang keliru...semuanya membawa akibat, kepedihan, dan rasa takut, tetapi kebijaksanaannya dan kesediaan untuk belajar dari masa lalu, kemudian melangkah ke depan mungkin mengarahkan kita ke masa depan yang mengejutkan dan membahagiakan.
    Disemangati oleh pemahaman baru ini, aku melangkah maju di tengah gerimis salju, semakin lelah tetapi terus maju, bersiteguh untuk tetap gigih di dalam hidup...bahkan jika hidup berisi belokan-belokan yang asing, yang tidak tampak...itu karena mungkin peristiwa yang istimewa, yang hanya terjadi sekali seumur hidup, sedang menanti di sudut jalan.

Sumber: Chicken Soup for the Soul

Tidak ada komentar:

Posting Komentar