Kita harus meninggalkan kata kenyamanan kita dan pergi ke belantara institusi kita.
Yang akan kita temukan akan sangat indah.
Yang akan kita temukan adalah diri kita.
- ALAN ALDA -
Aku duduk di meja kantor, berusaha keras menahan tangis. Tubuhku terasa mulai mati rasa dan aku merasa sangat berat di kursiku. Ada sesuatu di dalam udara hari ini yang tidak bisa benar-benar kupahami, tetapi aku tau hari ini tidak seperti hari kerja sebelumnya.
Bos telah menghampiri mejaku dan memintaku untuk pergi bersamanya ke Bagian Personalia. Sudah empat tahun aku bekerja di perusahaan ini dan tidak pernah sekalipun aku dipanggil untuk bertemu dengan Bagian Personalia bersama bosku. Belum jadwalku untuk kenaikan gaji atau pangkat. Satu-satunya alasan logis dari hal ini adalah karena aku akan dipecat.
Aku menjadi sangat menyadari segala sesuatu di sekelilingku. Aku merasa seperti akan pingsan, jadi aku mengingatkan diri untuk menarik napas dan terus berjalan maju. Aku dipersilahkan duduk. Saat aku mengembuskan napas dengan perlahan, bosku mulai memberitahu bahwa dia senang dengan sikap positifku dan aku selalu menyenangkan untuk diajak bekerja, tetapi peran-peran di agensi ini telah berubah dan posisiku sudah tidak dibutuhkan lagi.
Sementara dia bicara, aku merasa memudar, aku melihat gerakan bibirnya tetapi pikiranku hanya mendengar suara gemerisik. Aku berpikir sendiri, "Jika kau akan menjatuhkan kapak, lakukan saja
Air mata yang sudah kutahan sepanjang hari muncul ke permukaan. Saat mereka memandangku dengan kesedihan yang simpatik, air mata mengalir keluar. Yang tidak mereka sadari adalah air mata ini bukan muncul dari rasa takut atau pedih. Air mata ini adalah air mata kelegaan, kegembiraan yang lepas! Pada saat inilah aku menyadari bahwa semua pikiran positif dan doaku telah terjawab! Pada saat inilah aku benar-benar percaya bahwa keajaiban memang terjadi!
Mari kita kembali ke dua tahun sebelumnya. Aku sedang berjalan pulang setelah empat hari kali lima belas jam. Perjalanan ini adalah satu-satunya hal yang kulakukan untuk diriku sendiri selama dua minggu terakhir. Aku mengingatkan diri bahwa aku telah memilih pekerjaan periklanan yang glamor di kota besar ini. Saat aku memandangi jalan-jalan Chicago, wajah-wajah tampak memuram. Aku mempercepat langkah agar lebih cepat tiba di rumah, tetapi aku tidak bisa lagi menahan tangisku.
Aku berhasil mencapai rumah dan bergegas menembus pintu depan. Aku roboh ke lantai, gemetar dan ketakutan. Sekarang wajahku bersimbah air mata duka dan keletihan. Aku memandang sekeliling dan menyadari bahwa aku tidak menjalani hidup sebagaimana aku seharusnya hidup. Aku merasa seperti orang asing di apartemenku sendiri. Segala sesuatu seharusnya tidak begini. Aku menjalani hidup impianku, tetapi rasanya bukan seperti hidupku! Seakan-akan aku sedang menyewa eksistensi orang lain.
Dari luar sepertinya aku memiliki segalanya. Aku punya seorang pria yang ingin menikah denganku, dan aku baru saja menerima kenaikan jabatan kedua dalam dua tahun. Aku pergi keliling dunia untuk pekerjaanku, aku bekerja di sebuah agensi periklanan yang besar, dan tinggal di apartemen yang mewah. Sebelumnya aku berharap bahwa mencapai tujuan-tujuan ini akan membuatku bahagia dan puas. Seharusnya aku merasa sangat hidup dan bebas. Bukankah itu yang seharusnya terjadi ketika orang mendapatkan apa yang diinginkannya? Aku malah merasa terperangkap, sendirian dan takut bahwa hanya inilah yang terbaik!
Aku berdoa dengan suara keras. "Tolong aku, tolonglah aku. Aku membutuhkanku sekarang." Segera saja udara disekitarku berubah, dan suatu kehadiran yang tenang mengisi ruangan. Aku merasa para malaikat merangkulku dengan lengannya yang lembut. Air mataku mengering, dan segala sesuatu menjadi tenang. Aku mendengar sebuah suara. Itu suaraku, tetapi seakan-akan datang dari atas, seakan-akan malaikat yang sama yang memelukku membimbingku kembali ke terang. Petunjuknya sederhana : "Ikuti hatimu."
Ketika bangun keesokan harinya, aku mencermati hidupku. Mendengarkan suaraku, aku tau aku perlu memperbaiki hidupku. Aku memperhatikan relasiku dengan orang lain dan diriku sendiri, pekerjaanku, tempat aku tinggal
Seperti potongan-potongan puzzle, aku memecah setiap aspek dari hidupku, bersiteguh berulang-ulang dengan energi dan kekuatan positif. Pertama-tama aku membuat daftar dari hal-hal yang ingin kulakukan dalam hidup, dan mulai menindaklanjutinya. Berfokus lebih dulu pada kesehatanku, aku mendaftar ke lomba triatlon. Aku turun tujuh setengah kilogram dalam usaha mengejar impian itu dan peneguhan positif lainnya terus bermunculan. Aku menjadi relawan di tempat naungan hewan. Aku mulai melakukan perjalanan, lebih banyak membaca dan menulis. Aku berdoa dan mulai meditasi setiap hari. Perlahan-lahan aku melepas plester-plester yang telah kugunakan untuk menutup jiwaku yang menangis. Aku berhubungan kembali dengan diri sejatiku.
Segala sesuatu disekitarku mulai berubah. Relasi-relasiku menjadi lebih dalam, kepercayaan diriku lebih kuat, dan aku bahkan mengambil risiko mengadopsi seekor anjing yang menakjubkan, yang menjadi teman berjalan dan teman pelukan favorit. Bahkan ketika perubahan-perubahan positif mulai berdampak, pekerjaanku terus memburuk. Seperti pencuri di malam hari, rasa takut mulai menyusup kembali. Aku mulai berpikir bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan diriku, bahwa aku punya kelainan mental, atau sesuatu yang menyebabkan aku sangat tidak bahagia. Aku mulai mencari terapi, bahkan menemui dokter; aku bersiteguh untuk memperbaiki apa yang tidak beres di dalam diriku.
Terlepas dari upaya-upayaku, aku tau aku tidak bisa lagi mengabaikan suara yang terus berbunyi di dalam hatiku. Suatu hari aku berhenti menangis di lantai kamar mandi dan berkata dengan suara keras, "Apa yang aku lakukan di sini?" Aku berdiri, membasuh wajah dengan air, memandang diriku di cermin dan berkata, "Ini bukan kau atau hidupmu, dan ini bukan siapa dirimu atau siapa kau ingin menjadi. Jadi pergi dan raihlah." Aku meraih lipstik merahku dan menulis tujuan-tujuanku untuk empat minggu mendatang di cermin kamar mandi:
- $10.000 (entah melalui kenaikan gaji atau pekerjaan baru dengan gaji lebih besar).
- Aku ingin tinggal di dekat keluarga dan orang-orang yang kucintai di Oregon.
Sekarang, di tempat yang menimbulkan paling banyak derita, aku memiliki pelarian visual. Hanya dua minggu setelah aku menulis kalimat peneguhanku di cermin kamar mandi itulah aku dipanggil ke kantor personalia. Sebagai bagian pemecatanku mereka memberiku tunjangan sedikit di atas $10.000, dan kurang dari enam minggu kemudian aku sudah berada di Oregon, tinggal dengan keluargaku.
Sekarang aku merasa lebih banyak cinta daripada yang pernah kubayangkan. Aku memilih mengubah derita menjadi sesuatu yang positif dengan berfokus pada masa depan. Aku mewujudkan hidup yang sungguh-sungguh kuinginkan dengan bertahan pada pikiran yang positif dan memvisualisasikan hidup yang kubutuhkan. Bisa ada keindahan dalam kehancuran, tetapi tugas kitalah untuk terbuka agar berubah dan percaya bahwaa keajaiban memang terjadi. Ketika mengikuti hati kita, hasilnya tidak akan pernah mengecewakan kita, dan memiliki pandangan yang positif terhadap hidup dapat mengubah impian kita menjadi kenyataan.
Sumber: Chicken Soup for the Soul
Tidak ada komentar:
Posting Komentar