Menanti dengan Senyum

Selasa, 07 Oktober 2014

Dunia selalu tampak lebih cerah dari balik senyuman
- PENULIS TAK DIKENAL -


Aku tidak tahu apa yanng akan terjadi pada hari itu. Aku pergi ke dokter gigi  untuk membersihkan gigi secara rutin. Petugasnya ramah dan gembira seperti biasanya. setelah pembersihan, seperti biasanya pula aku pergi ke kamar mandi sebelum melakukan tugas lainnya.
   Saat aku membuka pintu kamar mandi dan berjalan ke arah lobi, hal pertama yang aku sadari adalah ruangan itu sangat hening dan gelap. Pada mulanya aku pikir mungkin listrik sedang padam. Aku melangkah maju dan setengah berbisik, "halo" lalu mengucapkannya sekali lagi, "halo". Tidak ada jawaban. Saat itulah aku menyadari bahwa aku seorang diri dan kemungkinan besar petugasnya sedang keluar makan siang. Tidak masalah, pikirku. Aku akan keluar sendiri, terima kasih.
   Ternyata pintu tidak mau membuka. Aku mencoba beberapa kali, tetapi masih tetap terkunci. Aku agak panik tetapi berpikir bahwa aku hanya perlu menyibukkan diri sampai mereka kembali. Bagaimanapun ini bukan situasi darurat. Aku memiliki apa yang kubutuhkan: sebotol air, dan kamar mandi ada di dekatku. Apa lagi yang aku butuhkan selain... mungkin sebotol sampanye sambil menunggu?
   Aku menemukan tombol lampu, menyamankan diri di sofa ruang tunggu dan mengeluarkan semua album foto yang belum pernah kusentuh. Album yanng terdiri dari foto-foto pasien sebelum dan sesudah giginya diperbaiki, dari gigi miring, tidak rata atau berwarna menjadi gigi yang lurus, putih, dan berkilauan. Saat membolak-balik halaman mengamati perubahan pada orang-orang, muda dan tua, pria dan wanita, aku mulai bertanya-tanya tentang arti senyum. Aku tau apa kata orang tentang mata, mereka adalah jendela jiwa. Bagaimana dengan senyum?
   Aku memperhatikan bahwa semua orang yang giginya telah diperbaiki mengatakan bahwa itu sangat meningkatkan kepercayaan diri mereka. Aku bertanya-tanya bagaimana itu terjadi. Ketika tersenyum pada seseorang, kita tidak bisa melihat senyum kita...kecuali kita melihat senyum kita terpantul kembali kepada kita melalui wajah seseorang. Jadi, pikirku, senyum meringankan semangat penerima, jika mereka terbuka untuk itu. Paling sedikit itulah yang kurasakan ketika seseorang tersenyum kepadaku. Ketika membalas kepada pengirimnya, senyum adalah suatu pesan kehangatan yang disepelekan oleh sebagian besar dari kita.
   Aku mulai memikirkan semua senyum yang tak terlupakan di dalam hidupku. Aku memejamkan mata dan menunggu senyuman itu muncul di benak.
   Senyum tak terlupakan yang pertama adalah senyuman putraku pada usia sembilan bulan, di hari pertama dia mulai berjalan. Itulah senyum yang sangat menghibur, seakan-akan senyum itu digambar dengan krayon di wajahnya. Jelas bahwa dia sangat senang (dan terkejut) akan kemampuan barunya. Aku tidak akan pernah melupakannya.
   Senyum berikutnya yang muncul di benak adalah senyum nenekku saat dia berdiri di ambang pintu dapurnya, menunggu kami tiba setelah beberapa jam di perjalanan, siap untuk mengisi perut kami yang kelaparan dengan tortilla, kacang merah, nasi, dan salsa lezat buatannya sendiri yang tidak bisa ditiru oleh restoran mana pun. Dia mengenakan celemek bertepian biru yang diikat ketubuhnya dan gaun bermotif bunga berkancing depan, rambutnya bergelombang diselang-selingi uban dan kami sangat senang menyentuhnya.
   Senyum terakhir yang muncul ke permukaan adalah senyum pucatku sendiri di cermin di tengah malam. Aku baru mengalami kemoterapi untuk kanker payudara dan telah gundul selama lebih dari enam bulan. Aku tidak punya bulu mata maupun alis. Siapa yang mengira hal-hal kecil seperti itu ternyata berarti besar disaat krisis? Sering aku terbangun dan memandang mata serta alisku, memeriksa tanda-tanda rambut disana. Saat tidak ada, biasanya aku menangis sampai tertidur. 
   Tetapi suatu malam, seperti biaasa aaku memegang kaca pembesar dan melihat sepucuk kecil rambut di kelopak mataku. Rambut itu begitu kecil, begitu rapuh; warnanya putih dikemunculannya yang samar-samar. Aku sedikit mundur dan tersenyum kepada diriku sendiri. Aku melihat senyumku di cermin. Itu adalah senyum lega. Malam itu aku menangis sampai tertidur, tetapi kali ini adalah airmata bahagia.
   Ketika terbangun dari lamunanku tentang senyum, aku sadar bahwa hampir saat setengah jam telah berlalu. Dengan mengetahui bahwa setiap saat aku bisa mengangkat telepon dan menelepon 911, situasi yang kuhadapi tampaknya lebih menarik. Aku berjalan keliling bertanya-tanya apakah mereka punya lemari pendingin. Aku memasuki sebuah ruang kecil dan menemukan sepotong kue brownies. Bukan makanan yang buruk untuk kejutan terkunci di kantor dokter gigi! (Bisa menjadi alasan yang bagus untuk langgar dietku). Terima kasih Tuhan untuk berkat-berkat kecil ini! Aku masih berpikir bahwa mungkin akan menyenangkan jika ada sampanye ketika aku mendengar suara pintu mobil ditutup di depan. Aku melihat keluar dan melihat dokter gigiku bersama stafnya muncul dari dua mobil dan menuju kantor.
   Ketika dokter gigi membuka pintu, senyumnya menghilang saat dia melihat aku duduk di ruang tunggu sambil membolak-balik majalah seakan-akan aku sedang menunggu dipanggil. Diperlukan beberapa detik sebelum dia menyadari apa yang telah terjadi.
   Seluruh staf membuntut di belakangnya dan berhenti mendadak di pintu, dan ketika mereka sadar bahwa aku terkunci di kantor selama mereka pergi, mereka berulang-ulang meminta maaf. Saat tenang yang sungguh indah, kataku memikirkan arti senyum dan bahwa mungkin aku akan menulis kisah tentangnya.
   Sementara para staf masih agak bingung dan berulang-ulang meminta maaf, aku menyadari bahwa aku merasa sangat gembira untuk tetap tersenyum. Ketika akhirnya aku bisa membuat mereka tertawa, aku berjalan menuju pintu, melanjutkan tugas-tugasku. 
   Aku sedang berpikir bahwa ketidaknyamanan sehari-hari bisa mengubah diri menjadi peluang yang langka jika kita tetap terbuka kepada mereka.
   Saat itulah aku melihat sebuah hiasan di dinding yang bertuliskan: "Sebuah senyum berlalu dalam sekilas, tetapi ingatan akan senyum itu bertahan sepanjang masa". Tulisan itu benar sekali, pikirku saat berjalan keluar pintu... sungguh-sungguh benar.

Sumber: Chicken Soup for the Soul

Menari di Tengah Hujan

Kamis, 08 Mei 2014

Orang yang mengatakan matahari mendatangkan kebahagiaan adalah orang yang tidak pernah menari di tengah hujan.

- PENGARANG TAK DIKENAL -



Aku dan suamiku baru saja selesai makan malam di restoran setempat dan kami berjalan-jalan melewati toko-toko di pusat perbelanjaan di sebelahnya. Kami memasuki toko kerajinan tangan dengan harapan bisa menemukan berbagai hadiah Natal di saat-saat terakhir. Wewangian sabun dan potpouri menggoda indra penciuman saat kami berjalan memasuki toko.
    Ada banyak benda yang bisa dilihat. Semua rak dan dinding dipenuhi dengan karya kerajinan tangan. Ketika berjalan-jalan di dalam toko, aku melihat sebuah papan kayu yang menggantung sederhana di dinding. Aku menoleh untuk mencermatinya dan aku ingat aku menganggukan kepala "ya" untuk pesan yang tertulis pada papan itu. Aku melanjutkan berjalan dan menikmati benda-benda lain, tetapi menemukan diriku terus tertarik kepada papan kayu itu.
    Berdiri di depan papan itu, aku merasa seperti anak kecil yang menemukan harta karun tak terduga di dalam kotak bermain pasir--sebuah koin atau mainan yang pernah hilang. Di sana, di antara benda-benda kerajinan lain, aku menemukan harta karun yang sangat sederhana, namun sangat bermakna, tersembunyi di dalam sebuah pesan. Pesan yang kubutuhkan. 
    "Hidup bukanlah tentang menunggu badai berlalu," kata papan itu, "tetapi tentang belajar menari di tengah hujan."
    Ketika aku menarik suamiku dan menunjukkan papan itu kepadanya, aku bisa melihat bahwa dia juga menghargai pelajaran sederhana yang tertulis di sana. Betapa seringnya kita mengajukan syarat untuk kebahagiaan kita. Jika rumah sudah lunas, kita akan bahagia. Ketika urusan anak-anak sudah beres, baru kita bisa melakukan sesuatu bersama-sama. Begitu sedikit kegembiraan untuk "di sini dan di saat kini" di tengah ketidakpastian "jika" dan "nanti".
    Saat memandangi papan itu, aku teringat akan suatu hari yang panas dan lembab di musim panas sebelumnya, ketika tanpa sengaja aku "menghidupi" pesan yang ada pada papan itu. Awan gelap telah bergulung-gulung di kaki Pegunungan Rockies, awan yang telah jenuh uap air. Gerimis mulai turun di senja hari, berkembang menjadi hujan deras yang membanjiri selokan, lalu berpindah ke tempat lain secepat kedatangannya. 
    Gerimis masih turun ketika aku berjalan ke kotak surat di luar. Air masih membanjiri selokan. Aku tidak tahu apa yang mendorongku, tetapi tiba-tiba aku ingin melakukan sesuatu yang agak gila diusiaku yang di atas lima puluh tahun.
    Aku membuka sepatu dan stocking, dan mulai berjalan telanjang kaki di genangan air. Air itu nyaman dan hangat, dihangatkan oleh trotoar yang telah dipanggang matahari musim panas.
    Aku yakin para tetanggaku akan menggangapku sudah kehilangan kewarasanku, tetapi aku tidak peduli. Karena untuk sesaat, aku merasa sangat hidup. Aku tidak mencemaskan tagihan, masa depan, atau kekhawatiran sehari-hari. Aku sedang mengalami sebuah karunia--saat gembira yang murni dan sederhana!
    Sekarang papan kayu itu, hadiah Natal dari suamiku itu, menggantung di ruang tengah. Setiap hari, puluhan kali aku melewatinya dan sering kali aku berhenti sejenak untuk bertanya kepada diri sendiri, "Jadi, apakah aku sedang menari di tengah hujan?"
    Sepertinya ya. Paling sedikit aku coba melakukannya. Yang pasti, aku lebih berkomitmen meluangkan waktu untuk sejenak dan mengenali serta bersyukur untuk berkat berlimpah yang mengitariku--kegembiraan-kegembiraan kecil yang terlalu sering terabaikan di dalam upayaku mengejar kebahagiaan di masa depan. Aku merayakan rahmat-rahmatku, di antaranya seorang putra berkebutuhan khusus yang sedang belajar mengemudikan mobil seorang diri, cinta dari para sahabat dan keindahan musim semi. Ya, selangkah demi selangkah, aku belajar untuk menari di tengah hujan!

Sumber: Chicken Soup for the Soul
   

Hari Ini Aku Merasa Seperti di Neraka

Rabu, 30 April 2014

Hanya karena kita merana itu tidak berarti kita tidak bisa menikmati hidup.

- ANNETTE GOODHEART -



Sikap positif? Yang benar saja. Kau pasti hanya main-main, pikirku, saat kakakku mengulang ceritanya tentang pria yang hebat ini--yang mulai sekarang disebut sebagai Oliver Sang Optimis--yang mengalami multipel sklerosis tetapi memiliki pandangan yang cerah terhadap dunia.
    "Kau tidak akan pernah tahu bahwa dia menderita MS," kata kakakku. "Dia memiliki sikap yang terbaik, berolahraga, bekerja keras, dan benar-benar hebat. Dia bisa mengelola MS-nya."
    Aku melongo, bukan secara harafiah, tetapi di dalam hati. Kakakku pastilah tidak waras mengusulkan hal gila seperti itu--mengusulkan Oliver Sang Optimis ini sebagai sumber ilhamku.
    Baru didiagnosa MS, baru berhenti dari olahraga pagi setiap hari, menggendong dua anak balita sekaligus, dan bekerja paruh waktu di University of Pittburgh, hanya dalam waktu dua minggu, aku harus turun meluncur menuruni tangga dengan dua anak dipangkuan agar aku tidak jatuh. Dengan tubuh yang begitu mati rasa aku tidak bisa merasakan tombol-tombol papan ketik untuk mengetik atau memberitahumu apakah tanganku menyandar di paha atau di lengan kursi kecuali aku memandanginya. Aku tidak tergugah oleh cerita kakakku.
    Aku marah pada apa yang terjadi padaku. Kakakku yang baik hati hanya mencoba membantuku melihat sisi terang. Dan dia bukan satu-satunya. Dengan berjalannya hari, aku diperkenalkan kepada para penderita MS lain--setiap orang mengenal seseorang yang menderita MS dan setiap orang mencelotehkan kisah tentang bagaimana orang-orang ini menghadapi penyakitnya dengan setabah orang-orang suci, malaikat, atau peri dongeng.
    Ketika aku tertatih-tatih pulang setelah mendengar salah satu kisah penuh ketabahan dalam menghadapi penyakit yang memakan selaput myelin ini, aku bertanya-tanya mengapa aku tidak bisa melihat kemudahan, kegembiraan, atau kepuasan seperti itu di dalam hidupku sendiri.
    Jujur saja, semua itu memuakkan.
    Lalu ada situasi di mana aku bertemu dan menghabiskan waktu bersama orang-orang yang lebih parah dariku. Berdasarkan reputasiku untuk merasa muak mendengar kisah Polly yang Positif atau Oliver Sang Optimis, mungkin kau berpikir bahwa aku dapat menemukan sejumput kebahagiaan di tengah kehadiran orang-orang yang memiliki sudut pandang yang negatif atau yang lumpuh parah.
    Tetapi situasi-situasi itu membuatku sangat takut dan malu karena pemandangan itu tidak membangkitkan belas kasih di dalam hatiku, dan aku malah berpikir, "Aku tidak akan bisa hidup seperti itu jika aku seperti dia."
    Aku ingin menjalani hidupku sama seperti tiga dekade sebelumnya, dengan caraku sendiri. Tetapi aku tidak bisa tidur karena ketidaknyamanan di tangan dan kakiku, yang berubah-ubah dari mati rasa dan kesemutan sampai nyeri yang sangat menyakitkan sehingga menggunakan kaus kaki saja terasa seperti berjalan di atas paku. Aku memiliki kecemasan dan dua anak kecil yang tidak pernah tidur nyenyak semalam suntuk dan tidak pernah bisa bangun di saat yang sama di malam hari. Dipikir-pikir, aku menjalani enam tahun dengan hanya memiliki 48 jam tidur REM.
    "Yang terbaik yang bisa Anda lakukan untuk diri Anda adalah banyak istirahat," kata dokter spesialis syarafku. Aku terkikik, pasti aku dianggap tidak waras.
    "Hanya itu? Hanya itu obatku? Obat-obat yang menimbulkan gejala mirip flu dan istirahat? Tolonglah, dokterku yang baik, perkenankan aku menjelaskan seperti apa hidupku."
    Jadi, aku melanjutkan, secara rinci, tentang bagaimana istirahat tidak akan menjadi tamu di rumahku.
    Kemudian aku menunggu. Aku menunggu dia mengekuarkan arsip tebal, penuh dengan kisah penderita lain (Oliver Sang Optimis dan Polly yang Positif juga pasiennya) yang hidup dengan hebat bersama MS, aku menunggu dia menggarisbawahi betapa beruntungnya aku memiliki derajat gejala yang kualami, bahwa aku harus menyadari betapa keadaan bisa lebih buruk lagi.
    Tetapi dia mengeluarkan sebuah kotak dari laci dan mencabut tisunya dan menyerahkan kepadaku. Dia menjulurkan lengannya ke arahku, seakan-akan dia adalah teman yang sangat tulus, dia berkata, "Ini memang menyebalkan bukan? Ini adalah hal terburuk yang bisa saya bayangkan. Saya bisa melihat betapa beratnya semua ini, bahwa hidup saya terjungkir balik. Saya bisa berpura-pura tahu bagaimana rasanya semua ini, tetapi saya bisa memberitahu bahwa ada banyak yang bisa dilakukan. Kita akan mencoba segala sesuatu sampai Anda bisa mengelola hidup yang Anda inginkan. Tetapi, ya, untuk saat ini semua memang menyebalkan."
    Itulah pertama kalinya ada seseorang yang tidak mencoba membuatku betapa egoisnya aku karena tidak menghargai bahwa keadaan bisa lebih buruk lagi. Dia adalah orang pertama yang tidak menceritakan kisah-kisah hebat dari orang-orang yang menjalani hidup bersama MS seakan-akan mereka tidak memiliki MS.
    Aku tahu betapa buruk kedengarannya semua itu, betapa buruknya diriku pada saat itu, tetapi kata-kata dokter itu membebaskan aku dari argumen yang kumiliki dengan diriku sendiri dan orang lain tentang cara menjalani hidup bersama penyakit ini.
    Aku menyadari bahwa meskipun aku tidak tersentuh oleh kisah Oliver Sang Optimis, sebenarnya aku adalah orang yang optimis. Mungkin aku bergerak lebih lambat dibandingkan orang lain, tubuhku berubah ke arah yang buruk, dan pada beberapa hari, yang bisa kulakukan hanyalah memberi makan anak-anakku dan berbaring di lantai serta membaca bersama mereka. Aku tidak bisa menghadiri semua kegiatan ibu-ibu di komunitas kami karena terkadang aku tidak mampu melakukan apa pun kecuali merawat anak-anak. Tetapi setiap hari aku bangun dan berpikir "hari ini adalah hari aku merasa seperti dulu; aku akan melakukan segala sesuatu yang ingin kulakukan," dan setiap hari ketika itu tidak terjadi, aku merumus-ulang apa yang kuanggap sebagai "segala sesuatu yang ingin kulakukan."
    Aku berhenti menyembunyikan kenyataan bahwa aku merasa seperti di neraka. Jika seseorang menanyakan perasaanku, aku akan berkata, "Aku merasa seperti di neraka." Dan mereka akan memalingkan wajah, sepersekian detik itu mengungkapkan ketidaknyamanan mereka dengan kekesalanku. Lalu aku menambahkan, "Tetapi aku baik-baik saja. Akku sudah terbiasa merasa seperti itu. Tadi kami pergi ke toko dan bermain di rumah. Itu saja.dan itu adalah hari yang baik."
    Dan meski aku tahu bahwa itu bukanlah pencapaian yang hebat, tetapi aku bersungguh-sungguh. Aku mulai memahami Oliver Sang Optimis dan Polly Si Positif. Menjadi orang yang positif bukanlah dibentuk oleh kata-kata yang keluar dari mulut seseorang, tetapi dari bagaimana mereka menghadapi hidup. Dengan mengakui bahwa segalanya menyebalkan, kemudian seseorang akan dapat mengendalikan reaksinya. Menjadi orang optimis atau penuh harapan, atau bahagia di hadapan sesuatu yang buruk, memerlukan orang untuk berendam di dalam keburukan itu, memerlukan orang yang bisa menamai keburukannya, untuk memaparkan segala keburukannya itu, agar orang bisa benar-benar bangkit darinya.

Sumber: Chicken Soup for the Soul

Rumput Liar

Selasa, 29 April 2014

Di mata seorang anak, tidak ada tujuh keajaiban dunia.

Yang ada adalah tujuh juta.

- WALT STREIGHTIFF -



Putriku Kristina yang berusia empat tahun dan aku terlambat lagi. Aku telah mengemudikan minivan biru pudarku dengan secapat mungkin sejauh lalu lintas di kota kami memungkinkan, tetapi kami masih terkena macet di setiap lampu merah dan tidak cukup cepat melewati perempatan jalan terakhir untuk mengalahkan bus-bus sekolah yang keluar dari tempat parkir sekolah. Jadi kami duduk di sana, lama sekali.
    Lalang rumput di sisi kami sedang menjadi lautan dandelion--bukan bunga-bunga kuning, tetapi bunga-bunga bulu putih.
    Aku berkata, "Oh Kristina, kasihan kebun itu... semuanya rumput liar," dan dia menjawab, "Oh, Mommy, lihat semua harapan itu!"

Sumber: Chicken Soup for the Soul

Hanya Sekali Lagi

Sabtu, 26 April 2014

Kekuatan ada di dalam jiwa dan semangat, bukan di otot.

- ALEX KARRAS -

 


"Baiklah, Beth, sekali lagi, hanya satu kali lagi."
    Aku terengah-engah melakukan satu sit up lagi, wajah memerah dan kelelahan, kemudian roboh terlentang ke tikar dan memandangi langit-langit. Terapis fisikku membungkuk ke arahku, dengan wajah tersenyum dan tangan direntang, menunggu aku mengangkat lengan dan menepuk telapak tangannya.
    "Aku tidak bisa," kataku, "Tunggu sebentar."
    Saat memandang cat yang mengelupas di langit-langit ruang terapi fisikku, aku bertanya-tanya lagi bagaimana aku bisa sampai ke titik ini. Lima sit up? Aku hanya bisa menyelesaikan lima sit up tanpa harus berhenti dan istirahat? Apa yang telah terjadi pada gadis yang bisa berenang lima kilometer sekaligus? Apa yang telah terjadi pada perempuan yang berlatih yoga beberapa kali dalam seminggu? Apa yang telah terjadi pada ibu periang yang akan berjalan selama satu jam ke kantor hanya karena matahari sedang cerah?
    "Dia sudah pergi," kata terapis fisikku dengan lembut, simpati, bersinar dari wajahnya yang ramah. "Siapa pun kau yang dulu, dia sudah pergi. Kau harus berkonsentrasi pada siapa dirimu saat ini."
    Memejamkan mata erat-erat untuk menahan air mata, aku menarik napas dalam dan bau keringat basi serta antiseptik menusuk hidungku. Aku menghembuskan napas perlahan-lahan, gemetar, diafragmaku memprotes bahkan hanya untuk penggunaan sebesar ini saja.
    Aku tidak ingin menjadi diriku saat ini. Aku tidak ingin mengalami myasthenia gravis (MG), suatu bentuk distrofi otot yang langka yang menyebabkan kelemahan otot. Pada kasusku, kondisi ini dimulai dengan kelopak mata yang melorot, kemudian mengenai lengan sampai aku tidak bisa mencuci rambut tanpa menjadi lemas dan akhirnya menyerang tungkai kaki sampai aku tidak bisa menaiki tangga. Aktifitas fisik untuk bersenang-senang pun sekedar menjadi bagian dari masa lalu dan "kebugaran" hanya berarti sejumput kecil latihan masa lalu yang masih bisa kulakukan di saat kini.
    Dengan menarik napas, aku menggulirkan tubuh ke samping, mendorong dengan satu lengan dan pada akhirnya mengangkat diri ke posisi duduk. Aku menjulurkan tangan dan menepuk telapak tengan terapisku. Dia tersenyum untuk kenyataan bahwa paling sedikit aku masih mencoba.
    "Mungkin kedengarannya menyedihkan, tetapi aku tidak ingin menjadi diriku saat ini," kataku mengakui untuk pertama kalinya sejak diagnosaku.
    "Aku tahu," katanya sederhana, "Mudah-mudahan kau terbantu untuk mengingat bahwa kebugaran bukanlah suatu kompetisi. Mulai dari sekarang kau harus membandingkan dirimu dengan dirimu sendiri, itu saja. Jika bisa melakukan lima sit up pada hari ini, besok kau harus mencoba enam sit up. Jika bisa berjalan selama sepuluh menit hari ini, besok kau harus mencoba berjalan sebelas menit."
    Aku mengangguk, mengetahui bahwa apa yang dia katakan itu penting. Tetapi jauh di kedalaman ada seorang anak kecil yang ingin bertepuk tangan di telinganya dan bernyanyi, "Aku tidak bisa mendengarmu! Aku tidak bisa mendengarmu!"
    Kami menyelesaikan sesi latihan hari itu dan aku menyimpan baik-baik nasihatnya untuk berbulan-bulan mendatang, terutama setelah aku harus mendapatkan sternotomi total untuk mengeluarkan kelenjar timus yang membesar dalam usaha meredakan MG. Setelah pembedahan aku melantunkan, "hanya sekali lagi, hanya sekali lagi" saat aku berjuang keras meletakkan satu kaki di depan kaki lainnya, mengisris makananku sendiri dan akhirnya menaiki tangga. Ketika pembedahan tidak menghasilkan perubahan yang diinginkan, aku melantunkan, "hanya sekali lagi, hanya sekali lagi" saat aku belajar berjalan dengan tongkat, dan kemudian tongkat penyangga. Ini semua bukanlah yang kuinginkan, malah sebenarnya aku sangat marah bahwa berjalan saja sudah membuat kakiku lemah dan pada hari-hari panas, berjalan singkat ke toko di sudut jalan bisa membuatku berkeringat seperti habis berlari panjang. Tetapi setiap kali ingin berhenti, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan melakukan satu kali lagi, dan di sebagian besar waktu, aku melakukan lebih banyak dari itu sebelum akhirnya aku berhenti.
    Sekarang setelah aku menyesuaikan diri untuk hidup dengan lebih perlahan, ada hari-hari di mana aku masih merasa kesal dengan seberapa banyak yang tidak bisa kulakukan. Sesekali aku memperhatikan orang menari, berlari, berenang, atau bahkan menggendong bayi dan mau tidak mau aku membandingkan fisikku dengan mereka. Kemudian aku mendengar suara terapis fisikku yang mengatakan bahwa kebugaran bukanlah suatu kompetisi dan aku hanya perlu memikirkan diriku sendiri. Aku masih bisa berjalan dan sedikit menari, aku bisa berenang dengan caraku sendiri, dan aku bisa menggendong bayi untuk beberapa waktu. Mungkin aku tidak sesehat atau sebugar orang lain, tetapi aku masih berkomitmen untuk menjadi sesehat mungkin sejauh kemampuanku, untuk melakukan satu kali lagi dari apa pun yang perlu kulakukan.
    Hanya sekali lagi. Itu tidak banyak, tetapi sangat-sangat penting.

Sumber: Chicken Soup for the Soul

Sebuah Langkah yang Sangat Kecil

Aku selalu menempel tulisan di kamar mandi di kostku dengan tulisan-tulisan, "Mohon disiram dengan bersih setelah menggunakan toilet", atau "Jangan menggunakan alas kaki saat masuk kamar mandi", atau "Mohon dipel saat ada air menggenang di depan pintu kamar mandi setelah menggunakannya". Begitu banyak tulisan yang aku tempel karena kebetulan kamarku terletak persis di samping kamar mandi dan depan kamarku berhadapan dengan pintu kamar mandi. Kadang aku merasa sangat terganggu saat mereka tidak memperhatikan kebersihan karena kamar mandi itu tak hanya digunakan untuk satu orang saja. 
    Tapi hari ini kuputuskan untuk melepas semua tulisan yang menempel itu dan menggantinya dengan tulisan "Terima kasih sudah ikut memperhatikan kebersihan kamar mandi dan menjaga kebersihan kost kita". ^_^

Setengah Penuh

Kamis, 24 April 2014

Setiap hari mungkin tidak selalu baik, tetapi ada sesuatu yang baik di setiap hari.

- PENULIS TAK DIKENAL -



Anak tengahku,  Jacob, adalah anak yang cerdas, semangat, dan tampan. Terlepas dari semua kelebihannya, dia memiliki kecenderungan yang menganggu untuk selalu melihat kehidupan sebagai cangkir setengah kosong. Setiap hari ketika pulang dari sekolah, Jake akan menceritakan semua hal buruk yang terjadi pada hari itu! Meski telah berusaha keras, aku tidak dapat meyakinkannya untuk membuang sikap negatif dan memilih untuk menghitung anugerahnya.
    Pada ulang tahunnya yang kesembilan, kami telah menabung cukup uang untuk membawa keluarga berlibur ke Disneyland selama dua hari. Pada saat itu, penghasilan ayahnya dan aku tidak terlalu besar, jadi itu sudah merupakan pengorbanan dari kami. Dan, kami rasa ulang tahun Jacob pantas dirayakan seperti itu. Setelah lelah seharian bermain di Disneyland, kami roboh di kamar hotel dan aku bertanya kepada anak kami yang berulang tahun, "Kau senang hari ini, Jake?" 
    Yang bisa dikatakan oleh putra kami, sang penemu kesalahan, hanyalah, "Pirates of the Caribbean-nya sudah tutup!"
    "Jacob Marshall," seruku, jelas tidak mampu menahan keputusasaanku, "kita mengantre satu setengah jam untuk melihat Rumah Hantu. Kita naik Gunung Angkasa tiga kali. Kita berjalan disana selama dua hari penuh, dan yang bisa kamu katakan hanyalah "Pirates of the Caribbean-nya tutup?" Jelas ada sesuatu yang perlu dilakukan untuk sekap negatifnya ini, dan akulah yang akan melakukannya!
    Aku menjalani misiku dengan keteguhan seorang komandan batalion. Aku membaca setiap artikel, membeli setiap buku. Jika saat itu sudah ada Internet, pasti aku sudah membuka Google selama berminggu-minggu untuk mencari senjata yang kuperlukan untuk mengalahkan negativitasnya.
    Dengan bantuan banyak sumber, aku mengembangkan strategiku. Beberapa buku kubaca mengenali putraku sebagai melankolis: Dia sensitif, artistik, mendalam, analitikal, dan bisa melihat yang terburuk di setiap situasi. Itu menggambarkan Jake dengan tepat.
    Pencarianku memberitahu bahwa orang-orang yang memiliki temperamen yang melankolis memiliki kebutuhan emosional akan keteraturan dan kepekaan. Itu berarti aku perlu mendengarkan rangkaian ucapan pesimis putraku dengan sabar. Biasanya reaksiku adalah mencoba mengeluarkan Jake dari negativitasnya, tetapi itu tidak memuaskan kebutuhannya akan kepekaan. Jadi, aku harus membiarkan dia menyelesaikan keluhannya dan bertanya, "Apa hal-hal bagus yang terjadi hari ini?" Kemudian aku harus menunggu sampai dia bisa mengatakan kepadaku--menunggu selama yang dia perlukan. Ini akan membantu Jacob menyadari bahwa hal-hal yang bagus benar-benar terjadi padanya, terlepas dari sudut pandangnya yang negatif.
    Tiba hari ketika aku siap mempratikkan strategiku. Jake pulang dari sekolah, duduk di tempat tidurnya seperti biasa dan mulai mendaftar hal-hal buruk yang terjadi di sekolah. Aku mendengarkan dengan cermat, melakukan kontak mata dan mengangguk dengan empatik, sebelum aku bertanya, "Apa hal-hal bagus yang terjadi hari ini, Jake?"
    Responnya seperti yang sudah kuduga, "Tidak ada."
    "Pasti ada sesuatu yang baik. Kau enam jam di sana." kataku mendorongnya. Kemudian aku menunggu lima belaas menit, bersikeras tetap di sana, jika perlu sepanjang malam, untuk menggeser paradigmanya.
    Pada akhirnya dia mengakui, "Aku boleh membersihkan penghapus papan tulis."
    "Sendirian?"
    "Tidak, bersama Brandon."
    "Sahabatmu?"
    "Ya."
    "Maksudmu kau boleh meninggalkan kelas dan membersihkan penghapus papan bersama sobatmu? Wah, kau anak yang beruntung, ya?"
    "Ya, aku rasa begitu," komentar Jake dengan kepala diangkat dan bahu dilebarkan.
    Percakapan ini memulai latihan harian kami. Aku tidak bisa menghitung sudah berapa kali kami mengulang ritual ini. Jacob mulai mengerti daya dari sudut pandang yang positif, tetapi jalan menuju ke sana terkadang lenyap baginya. Kemuadian aku mendorongnya untuk melihat segalanya secara berbeda, dan dia akan kembali ke jalan yang memilih hal positif dan membuang sikap negatif. Perjalanan itu tidak mudah, tetapi dia mengalami kemajuan.
    Tahun ajaran sekolah akan berakhir dan Hari Ibu sudah menjelang. Ayah Jake membawanya ke toko untuk mencari kartu Hari Ibu. Di samping cake yang telah disiapkan olehnya dan saudari-saudarinya, tergeletak kartu pilihannya. Dengan senyum lebar dia menyerahkannya. Di depan kartu tertulis:
    "Orang yang pesimis melihat cangkir setengah kosong.
    Orang optimis melihat cangkir setengah penuh."
    Aku membuka kartu dan membaca bagian dalamnya:
    "Tetapi Mom melihat cangkir sebagai suatu benda yang belum dicuci oleh orang yang tidak peka! Selamat Hari Ibu."
    Aku dan Jake tertawa sampai keluar air mata, dan pada saat itu, aku yakin bahwa kerja kerasku telah berbuah.

Sumber: Chicken Soup for the Soul
    

Kisah Cinta Dan Waktu

Rabu, 23 April 2014

Alkisah disuatu pulau kecil tinggallah benda-benda abstrak seperti cinta, kesedihan, kekayaan, kebahagiaan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik.
Suatu ketika datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan segera menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat segera menyelamatkan diri. Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tidak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai untuk mencari pertolongan. Sementara itu air semakin naik dan mulai membasahi kaki Cinta.
Tak lama kemudian Cinta melihat kekayaan sedang mengayuh perahu. “Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!” teriak Cinta. “Aduh maaf Cinta, perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tidak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu diperahuku ini.”
Lalu Kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi. Cinta sedih sekali namun kemudian dilihatnya kegembiraan lewat dengan perahunya. “Kegembiraan, tolong aku!”, teriak Cinta. Namun Kegembiraan terlalu bergembira menemukan perahu sehingga ia tidak mendengar teriakan Cinta.
Air makin tinggi membasahi sampai ke pinggang dan Cinta pun mulai panik. Tak lama kemudian lewatlah Kecantikan. ”Kecantikan, bawalah aku bersamamu”, teriak Cinta. “Wah Cinta, kamu basah dan kotor, aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku ini”, sahut Kecantikan.
Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itulah lewat Kesedihan. “Oh Kesedihan bawalah aku bersamamu”, kata Cinta. “Maaf Cinta, aku sedang sedih, dan aku ingin sendirian saja…”, kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. Cinta sudah mulai putus asa, ia melihat air semakin naik dan akan segera menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah terdengar suara, “Cinta, mari segera naik perahuku”. Cinta menoleh ke suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat ia naik ke perahu itu tepat sebelum air menenggelamkannya.
Di pulau terdekat orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itulah Cinta baru sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang telah menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakan orang tua itu kapada penduduk tua di pulau, siapa sebenarnya orang tua itu. “Oh, orang tua itu tadi?, dia adalah Waktu,” kata orang-orang tersebut. “Tapi kenapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalkupun enggan untuk menolongku”, tanya Cinta heran.

"Sebab hanya waktulah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari cinta itu… ."

Sumber: cerita bijak motivasi

Di Belokan

Selasa, 22 April 2014

Di kedalaman musim dingin akhirnya aku menemukan bahwa ada musim panas yang tidak bisa tergantikan di dalam diriku.

 - ALBERT CAMUS -


 Salju tiba lebih dini daripada yang diduga saat aku memasukkan barang belanjaan ke bagasi. Salju setinggi beberapa kaki telah menutup wilayah kami, dan badai baru ini adalah serangan badai lain yang ganas.
    "Mungkin ini akan menjadi badai abad ini," gumamku, menyalakan mesin mobil dan memikirkan beberapa tahun terakhir yang sulit. Aku telah melewati penyakit, kehilangan keuangan, dan kematian teman-teman, tetapi ada sesuatu yang lain yang menekanku--keputusasaan karena tujuan yang tak tercapai dan impian yang hancur berantakan. Dan sekarang, benih penyesalan, sesuatu yang tak kutanam di masa lalu, mulai bertunas.
    "Badai lagi." bisikku dengan suara keras, biasanya aku menikmati malam-malam musim dingin seperti ini. Tetapi malam itu, pikiranku terasa berat saat aku meluncur menuju rumah country-ku.
    Biasanya imanku positif, yang selalu memandang hidup sebagai sederet kesulitan untuk diatasi. Tetapi, beberapa tahun terakhir, kesulitan itu sepertinya tanpa akhir dan lebih sulit dihadapi. Meski aku menganggap diriku bisa menghadapi kesulitan dengan baik, aku tidak menyadari bahwa siriku yang sesungguhnya, yang gairah hidupnya telah mengilhami orang lain, telah kehabisan energi.
    Di tahun lalu, aku telah dihadapkan pada pilihan yang tak diharapkan. Dan dalam keadaan kacau, aku telah salah memilih, membuat kesalahan yang kritis. Sekarang aku takut memercayai kemampuan penilaianku, takut membuat keputusan, dan takut pada masa depan.
    Lampu mobil menyorot pagar putih rumahku. Aku mengendalikan mobil yang tergelincir dibelokan yang tajam, mendaki jalan menanjak menuju rumah, kemudian memarkir mobil dan mematikan mesin. Keluar dari mobil, aku mengangkat beberapa kantong belanjaan, menjatuhkan satu bungkus apel. Kantong plastiknya robek--dan apel-apel bergulingan ke salju. Memunguti buah-buah yang lebam itu dan memasukkannya ke saku, aku besyukur ketika Jeff, suamiku, bergegas keluar untuk menolong.
    "Aku senang kau sudah pulang." katanya. "Badai ini muncul lebih dini dari perkiraan, dan belokan di jalanan kita itu cepat membeku. Aku beerdoa agar kau ingat membelok dengan hati-hati."
    "Aku memang ingat," kataku, berpikir betapa aku sangat mengenal belokan itu dan berharap kalau saja aku mengetahui apa yang ada di belokan bagi masa depan kami... .
    Mata cokelat Jeff mengamatiku. "Kau baru menangis?"
    "Ini karena salju yang mencair," kelakarku, berusaha tersenyum.
    "Kau tidak harus kuat," katanya kemudian, setelah kami berada di dalam rumah.
    Tetapi aku harus kuat, pikirku. Terlalu banyak orang yang bergantung padaku, dan aku tidak bisa berbuat kesalahan lagi. Tetapi aku begitu lelah dan membutuhkan kejutan positif.
    Setelah membereskan belanjaan, aku dan anak-anak duduk di dekat perapian untuk memainkan permainan. Saat jam tidur tiba, aku berdoa bersama mereka di sisi tempat tidur mereka, dan kembali ke ruang bawah. Suamiku telah tertidur di sofa, dan aku menyelimutinya sebelum bergerak ke arah jendela untuk mengintip keluar. Salju putih berkilauan dengan latar belakang gelapnya malam.
    Aku memutuskan untuk berjalan di dunia kristal di luar, dan mengenakan mantel serta sepatu bot. Di luar, kakiku seperti menghilang di putihnya salju yang tebal saat berjalan di ladang yang bersalju ke arah hutan sekitar beberapa ratus meter di depan.
    Keheningan--damai yang hanya bisa diberikan oleh salju yang baru turun--mendorongku untuk menyerahkan beban-bebanku. Selama bertahun-tahun aku mengatakan kepada anak-anak bahwa selama hujan salju seperti inilah waktu berhenti.
    Entah di mana sepanjang perjalananku, aku menyadari bahwa aku menangis. Berhenti untuk menarik napas, aku merasa panik. Entah bagaimana aku telah berjalan keluar dari jejak jalan di rumahku yang kukenal. "Oh, tidak," gumamku, tidak yakin di mana aku berada. "Tolonglah aku, Tuhan."
    Ditengah hujan salju aku mencari tanda-tanda yang kukenal, tetapi tidak menemukannya. Itu simbolik dalam kehidupanku, berbuat kesalahan seperti berjalan di badai salju, dan tersesat. Aku tertatih-tatih diwilayah asing lagi, dan menderita menanggung akibatnya.
    Merasa lelah dan tak berdaya, aku roboh terduduk di tanah, menyandarkan kepalaku di atas lutut yang ditarik. Bermenit-menit berlalu, kemudian aku merasa lenganku disentuh. Perlahan-lahan aku mengangkat kepala dan terkesiap.
    Seekor rusa betina berdiri hanya beberapa centimeter darikku.Ia memandangku, kemudian mendengus--uap air menghembus dari hidungnya. Aku mengamatinya. Ia tampak lebih kurus daripada sebagian rusa yang pernag kulihat, dan ia sendirian--sesuatu yang aneh karena aku selalu melihat rusa berkelompok.
    Ayahku seorang pemburu berpengalaman, pernah memberitahu bahwa selama musim dingin yang hebat, rusa yang lapar akan mendekat mencari makan ke rumah penduduk. Mungkin ini adalah salah satu dari saat seperti itu.
    Takjub pada keindahannya, aku menunggu. Kegugupannya mengatakan bahwa sewaktu-waktu ia bisa melarikan diri, jadi mengapa ia mendekatiku? Hujan salju telah mereda dan keheningan yang damai seolah-olah mendorong saling percaya di antara aku dan makhluk yang misterius ini.
    Dia melangkah mendekat, jantungku berdebar-debar, kemudian ia menurunkan kepalanya dan menyentuh bagian kanan mantelku. Aku meraba saku dan menyadari bahwa masih ada apel yang tadi terjatuh dari kantong belanja. Aku menawarkannya pada rusa itu.
    Beberapa saat berlalu sementara ia mengamati apel dan aku. Aku tidak bisa percaya bahwa ini terjadi. Aku telah berjalan keluar jalur, tersesat, dan sekarang mengalami saat-saat luar biasa.
    "Kau telah memberiku apa yanng selama ini kuharapkan." kataku kepada teman baruku. "Ternyata, kesalahan bisa mendatangkan hasil yang positif." Seakan-akan ia telah menungguku untuk mengatakan itu, ia mengambil apel dengan mulutnya dan berlari menjauh ke kegelapan malam.
    "Terima kasih, Tuhan." bisikku, tiba-tiba merasa tidak takut saat aku berdiri. Aku terbungkus rasa hangat, tidak ada bahaya di dekatku, jadi aku memilih jalan yang paling logis untuk pulang ke rumah. Jika aku melakukan kesalahan arah lagi, mungkin keajaiban lain sedang menunggu di belokan.
    Sama seperti di dalam hidup, kataku kepada diri sendiri. Kesalahan, penyesalan, dan pilihan yang keliru...semuanya membawa akibat, kepedihan, dan rasa takut, tetapi kebijaksanaannya dan kesediaan untuk belajar dari masa lalu, kemudian melangkah ke depan mungkin mengarahkan kita ke masa depan yang mengejutkan dan membahagiakan.
    Disemangati oleh pemahaman baru ini, aku melangkah maju di tengah gerimis salju, semakin lelah tetapi terus maju, bersiteguh untuk tetap gigih di dalam hidup...bahkan jika hidup berisi belokan-belokan yang asing, yang tidak tampak...itu karena mungkin peristiwa yang istimewa, yang hanya terjadi sekali seumur hidup, sedang menanti di sudut jalan.

Sumber: Chicken Soup for the Soul

Keindahan di Tengah Kehancuran

Senin, 21 April 2014

Kita harus meninggalkan kata kenyamanan kita dan pergi ke belantara institusi kita.

Yang akan kita temukan akan sangat indah.

Yang akan kita temukan adalah diri kita.

- ALAN ALDA -


Aku duduk di meja kantor, berusaha keras menahan tangis. Tubuhku terasa mulai mati rasa dan aku merasa sangat berat di kursiku. Ada sesuatu di dalam udara hari ini yang tidak bisa benar-benar kupahami, tetapi aku tau hari ini tidak seperti hari kerja sebelumnya.
    Bos telah menghampiri mejaku dan memintaku untuk pergi bersamanya ke Bagian Personalia. Sudah empat tahun aku bekerja di perusahaan ini dan tidak pernah sekalipun aku dipanggil untuk bertemu dengan Bagian Personalia bersama bosku. Belum jadwalku untuk kenaikan gaji atau pangkat. Satu-satunya alasan logis dari hal ini adalah karena aku akan dipecat.
    Aku menjadi sangat menyadari segala sesuatu di sekelilingku. Aku merasa seperti akan pingsan, jadi aku mengingatkan diri untuk menarik napas dan terus berjalan maju. Aku dipersilahkan duduk. Saat aku mengembuskan napas dengan perlahan, bosku mulai memberitahu bahwa dia senang dengan sikap positifku dan aku selalu menyenangkan untuk diajak bekerja, tetapi peran-peran di agensi ini telah berubah dan posisiku sudah tidak dibutuhkan lagi.
    Sementara dia bicara, aku merasa memudar, aku melihat gerakan bibirnya tetapi pikiranku hanya mendengar suara gemerisik. Aku berpikir sendiri, "Jika kau akan menjatuhkan kapak, lakukan saja--selesaikan saja secepat mungkin. Antisipasi ini lebih menyakitkan." Kemudian aku mengingatkan diri bahwa mungkin ini adalah titik ungkit paling penting di dalam hidupku. Inilah waktunya aku menenangkan kekacauan di dalam diri dan memberi perhatian. Aku memaksa diriku untuk mendengarkan. Di saat itu, bos berpaling kepada petugas perempuan yang telah menandatangani kontrak-kontrak kerjaku, dan berkata, "Ini selalu sulit dilakukan, tetapi kami perlu membebaskanmu."
    Air mata yang sudah kutahan sepanjang hari muncul ke permukaan. Saat mereka memandangku dengan kesedihan yang simpatik, air mata mengalir keluar. Yang tidak mereka sadari adalah air mata ini bukan muncul dari rasa takut atau pedih. Air mata ini adalah air mata kelegaan, kegembiraan yang lepas! Pada saat inilah aku menyadari bahwa semua pikiran positif dan doaku telah terjawab! Pada saat inilah aku benar-benar percaya bahwa keajaiban memang terjadi! 
    Mari kita kembali ke dua tahun sebelumnya. Aku sedang berjalan pulang setelah empat hari kali lima belas jam. Perjalanan ini adalah satu-satunya hal yang kulakukan untuk diriku sendiri selama dua minggu terakhir. Aku mengingatkan diri bahwa aku telah memilih pekerjaan periklanan yang glamor di kota besar ini. Saat aku memandangi jalan-jalan Chicago, wajah-wajah tampak memuram. Aku mempercepat langkah agar lebih cepat tiba di rumah, tetapi aku tidak bisa lagi menahan tangisku.
    Aku berhasil mencapai rumah dan bergegas menembus pintu depan. Aku roboh ke lantai, gemetar dan ketakutan. Sekarang wajahku bersimbah air mata duka dan keletihan. Aku memandang sekeliling dan menyadari bahwa aku tidak menjalani hidup sebagaimana aku seharusnya hidup. Aku merasa seperti orang asing di apartemenku sendiri. Segala sesuatu seharusnya tidak begini. Aku menjalani hidup impianku, tetapi rasanya bukan seperti hidupku! Seakan-akan aku sedang menyewa eksistensi orang lain.
    Dari luar sepertinya aku memiliki segalanya. Aku punya seorang pria yang ingin menikah denganku, dan aku baru saja menerima kenaikan jabatan kedua dalam dua tahun. Aku pergi keliling dunia untuk pekerjaanku, aku bekerja di sebuah agensi periklanan yang besar, dan tinggal di apartemen yang mewah. Sebelumnya aku berharap bahwa mencapai tujuan-tujuan ini akan membuatku bahagia dan puas. Seharusnya aku merasa sangat hidup dan bebas. Bukankah itu yang seharusnya terjadi ketika orang mendapatkan apa yang diinginkannya? Aku malah merasa terperangkap, sendirian dan takut bahwa hanya inilah yang terbaik!
    Aku berdoa dengan suara keras. "Tolong aku, tolonglah aku. Aku membutuhkanku sekarang." Segera saja udara disekitarku berubah, dan suatu kehadiran yang tenang mengisi ruangan. Aku merasa para malaikat merangkulku dengan lengannya yang lembut. Air mataku mengering, dan segala sesuatu menjadi tenang. Aku mendengar sebuah suara. Itu suaraku, tetapi seakan-akan datang dari atas, seakan-akan malaikat yang sama yang memelukku membimbingku kembali ke terang. Petunjuknya sederhana : "Ikuti hatimu."
    Ketika bangun keesokan harinya, aku mencermati hidupku. Mendengarkan suaraku, aku tau aku perlu memperbaiki hidupku. Aku memperhatikan relasiku dengan orang lain dan diriku sendiri, pekerjaanku, tempat aku tinggal--segala sesuatu. Aku bertanya kepada diri sendiri, bagaimana aku bisa membuat perubahan-perubahan besar. Beban dari memulai perubahan itu mulai terasa membebani, tetapi aku mengingatkan diri bahwa dalam hidup, kita selalu mempunyai pilihan. Meski pada saat ini ak tidak bisa  melihat jalan keluar, satu-satunya hal yang bisa kukendalikan adalah pikiran-pikiranku, dan aku harus memilih pikiran yang positif. Pikiran-pikiran itu membawaku kembali ke rasa aman, dan begitulah perjalanan menuju diri sejatiku dimulai.
    Seperti potongan-potongan puzzle, aku memecah setiap aspek dari hidupku, bersiteguh berulang-ulang dengan energi dan kekuatan positif. Pertama-tama aku membuat daftar dari hal-hal yang ingin kulakukan dalam hidup, dan mulai menindaklanjutinya. Berfokus lebih dulu pada kesehatanku, aku mendaftar ke lomba triatlon. Aku turun tujuh setengah kilogram dalam usaha mengejar impian itu dan peneguhan positif lainnya terus bermunculan. Aku menjadi relawan di tempat naungan hewan. Aku mulai melakukan perjalanan, lebih banyak membaca dan menulis. Aku berdoa dan mulai meditasi setiap hari. Perlahan-lahan aku melepas plester-plester yang telah kugunakan untuk menutup jiwaku yang menangis. Aku berhubungan kembali dengan diri sejatiku. 
    Segala sesuatu disekitarku mulai berubah. Relasi-relasiku menjadi lebih dalam, kepercayaan diriku lebih kuat, dan aku bahkan mengambil risiko mengadopsi seekor anjing yang menakjubkan, yang menjadi teman berjalan dan teman pelukan favorit. Bahkan ketika perubahan-perubahan positif mulai berdampak, pekerjaanku terus memburuk. Seperti pencuri di malam hari, rasa takut mulai menyusup kembali. Aku mulai berpikir bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan diriku, bahwa aku punya kelainan mental, atau sesuatu yang menyebabkan aku sangat tidak bahagia. Aku mulai mencari terapi, bahkan menemui dokter; aku bersiteguh untuk memperbaiki apa yang tidak beres di dalam diriku.
    Terlepas dari upaya-upayaku, aku tau aku tidak bisa lagi mengabaikan suara yang terus berbunyi di dalam hatiku. Suatu hari aku berhenti menangis di lantai kamar mandi dan berkata dengan suara keras, "Apa yang aku lakukan di sini?" Aku berdiri, membasuh wajah dengan air, memandang diriku di cermin dan berkata, "Ini bukan kau atau hidupmu, dan ini bukan siapa dirimu atau siapa kau ingin menjadi. Jadi pergi dan raihlah." Aku meraih lipstik merahku dan menulis tujuan-tujuanku untuk empat minggu mendatang di cermin kamar mandi:
  1. $10.000 (entah melalui kenaikan gaji atau pekerjaan baru dengan gaji lebih besar).
  2. Aku ingin tinggal di dekat keluarga dan orang-orang yang kucintai di Oregon.
    Aku tidak tahu bagaimana tujuanku ini akan tercapai, tetapi di dalam hati aku tahu bahwa jika aku memelihara pandangan yang positif, pasti keadaan lebih baik daripada keadaan yang sekarang. Setiap hari selama dua minggu berikutnya aku memandang kedua kalimat di cermin itu. Ketika lari pagi di tepian danau, aku membayangkan Mt. Hood dan jembatan-jembatan Portland, bukan lalu lintas Chicago yang berasap. Di tempat kerja, aku memasang foto-foto Oregon, rumah masa depanku, anggota keluargaku, dan foto-foto interior perusahaan di mana aku ingin bekerja. Aku menganggapnya sebagai papan impian miniku.
    Sekarang, di tempat yang menimbulkan paling banyak derita, aku memiliki pelarian visual. Hanya dua minggu setelah aku menulis kalimat peneguhanku di cermin kamar mandi itulah aku dipanggil ke kantor personalia. Sebagai bagian pemecatanku mereka memberiku tunjangan sedikit di atas $10.000, dan kurang dari enam minggu kemudian aku sudah berada di Oregon, tinggal dengan keluargaku.
    Sekarang aku merasa lebih banyak cinta daripada yang pernah kubayangkan. Aku memilih mengubah derita menjadi sesuatu yang positif dengan berfokus pada masa depan. Aku mewujudkan hidup yang sungguh-sungguh kuinginkan dengan bertahan pada pikiran yang positif dan memvisualisasikan hidup yang kubutuhkan. Bisa ada keindahan dalam kehancuran, tetapi tugas kitalah untuk terbuka agar berubah dan percaya bahwaa keajaiban memang terjadi. Ketika mengikuti hati kita, hasilnya tidak akan pernah mengecewakan kita, dan memiliki pandangan yang positif terhadap hidup dapat mengubah impian kita menjadi kenyataan.

Sumber: Chicken Soup for the Soul

Bintang yang Bersinar di Tengah Kegelapan

Rabu, 09 April 2014

Jika aku bisa meraih dan menggenggam bintang setiap kali kau membuatku tersenyum, maka seluruh langit malam akan berada di telapak tanganku.

- PENULIS TAK DIKENAL -

Ada hal-hal tertentu yang terjadi di dalam hidup kita yang akan selamanya terukir di kenangan, dan kita bisa mengingatnya dengan sangat jelas seakan-akan itu baru terjadi kemarin. 29 Mei 2009 adalah tanggal yang terus kuputar dibenak karena itu adalah hari saat kami diberitahu bahwa keponakan terkasih kami, Cassy, menderita penyakit tahap akhir dan sisa hidupnya bersama kami sudah terbatas.
   "Paling bagus tiga bulan," kata mereka, dan mereka akan berusaha "membuatnya nyaman" dan "bebas nyeri". Aku ingat aku memandang saudariku, Cathy, dan memperhatikan wajahnya saat berita yang menyedihkan itu mengendap dan perjalanan empat belas bulan kami tiba-tiba membelok ke arah yang tidak diinginkan.
    Cassy didiagnosa menderita Ewing Sarcoma, sebentuk kanker tulang, saat dia berusia sebelas tahun dan dia menghadapi setiap pembedahan, pengobatan, dan prosedur medis dengan angggun, berani, dan sikap positif menyentuh semua orang yang mengenalnya. Roller coaster yang ditumpangi keluarga kami pada masa itu penuh dengan tanjakan dan turunan yang mengocok emosi kami dengan cara yang sulit digambarkan. Ada banyak pelajaran yang didapat saat kami mencoba menghadapi berbagai kunjungan ke dokter dan rawat inap di rumah sakit, sambil berusaha mempertahankan sejumput kenormalan di dalam hidup kami. Cassy dan keluarga kami bekerja sangat keras untuk menjauhkan monster ini, dan tidak ada orang yang bisa mengingkari keteguhan dan pengabdian kami kepada perjuangan ini.
    Ketika kami dihadapkan pada tugas yang berat untuk menyampaikan berita yang menyedihkan itu kepada Cassy, kami duduk sebagai keluarga dan menjelaskan kepadanya bahwa pengobatan sedang dihentikan, dan kami berfokus pada membantu memenuhi semua keinginannya selama beberapa bulan mendatang.
    Sekali lagi, kami dibuat takjub oleh sikap positif  Cassy dan penerimaannya akan nasibnya yang tidak adil. Dia membuat "daftar" hal-hal yang ingin dilakukannya dan tempat-tempat yang ingin dikunjunginya dan keluarga kami berusaha keras memenuhi semua keinginannya.
    Permintaannya begitu khas remaja sehingga membuat kami tersenyum ketika membacanya. Daftarnya adalah hal-hal yang disepelekan orang, tetapi sangat penting bagi Cassy.
    Dia ingin bersekolah di SMA untuk satu hari, menato badan, menindik pusarnya, belajar mengemudi, melakukan perjalanan bersama keluarga, pergi ke pesta kelulusan kelas delapan (meskipun dia masih kelas tujuh), perdi ke Prince Edward Island, dan merayakan pesta ulang tahun yang ketiga belas dengan tema Hawaian. Selama enam minggu berikutnya, Cassy melakukan sebagian besar dari daftarnya... .dan kami mempunyai banyak foto dari bab terakhir hidupnya. Itu adalah saat yang sangat istimewa bagi kami semua, dan kami bersyukur untuk kenangan ini.
    Cassy berulang tahun ketiga belas pada 8 Juli 2009 dan aku ingat aku mengalami kesulitan untuk memilih kado ulang tahunnya dan bertanya-tanya... .apa yang harus kuhadiahkan untuk seorang gadis belia yang tidak akan lama lagi berada bersama kami? Aku memutuskan untuk "menamai bintang" dengan nama Cassy dan membawa dokumennya ke rumah sakit pada hari ulang tahunnya. Cassy senang sekali membayangkan sebuah bintang khusus dinamai dengan namanya. Dia terus bertanya tentang dimana letaknya bintang ini dan bagaimana kita bisa menemukannya. Dia terhibur mengetahui bahwa kami akan memiliki koneksi yang berkelanjutan dengannya, dan kami sendiri menemukan kedamaian dalam memiliki simbol khusus dari malaikat terkasih kami.
    Ketika keadaan Cassy memburuk empat hari kemudian, keluarga pergi ke rumah sakit di tengah malam untuk melakukan doa malaam baginya saat dia beralih dari dunia ini ke dunia berikutnya. Malam itu pikiran-pikiranku kembali ke malam saat dia dilahirkan tiga belas tahun sebelumnya dan aku dipanggil ke rumah sakit untuk membantu membimbing saudariku melalui kelahiran. Akulah orang pertama yang menggendongnya ketika dia memasuki dunia ini, dan sekarang aku memperhatikan dia menghembuskan napas terakhirnya.
    Memang sulit melihat kembali perjalanan Cassy dan berpikir bahwa ada sesuatu yang positif di dalamnya, tetapi selain kepedihan dan air mata, jelas ada beberapa pelajaran hidup yang telah dipelajari. Keluarga kami telah mengenal nilai sesungguhnya dari persahabatan, dukungan, komunitas, dan cinta dari keluarga. Kami belajar tidak menyepelekan hal-hal kecil, dan mungkin kami harus sedikit lebih spontan. Kami belajar bahwa kita dapat memengaruhi orang dan meninggalkan kesan yang mendalam di hati mereka, bhakan jika kita hanya ada di sini untuk waktu yang singkat, dan bahwa kenangan memberi kita kekuatan yang berkelanjutan untuk terus melangkah meski kita merasa tidak ingin melangkah.
    Sekarang ini kami masih terus belajar menghadapi kehilangan Cassy kami yang sangat berharga, tetapi kami tahu semangatnya kuat dan kehadirannya dirasakan setiap hari melalui pesan-pesan samar yang dia kirim kepada kami. Kami memandang ke langit dan tersenyum ketika kami melihat bintang berkelap-kelip yang telah menjadi simbol iman dan harapan kami.
    Dia telah dan akan selalu menjadi "bintang kami yang bersinar di tengah kegelapan."

Sumber: Chicken Soup for the Soul

Dahulukan Manusianya

Selasa, 08 April 2014

Aku selalu memilih mempercayai yang terbaik dari setiap orang, itu sangat menghemat masalah.

- RUDYARD KIPLING -


Ketika menghadiri Open House di sekolah putraku, aku memindai papan pengumuman di luar kelas satunya. Aku melihat karya Cody di tengah lautan kertas warna-warni yang direkat disana. Senyumku membeku.
     Di dalam sebuah lingkaran seharusnya dia menulis atau menggambar apa yang tidak disukainya.
     "MEN (pria)," tulisnya dalam huruf-huruf besar.
     Uh oh, pikirku saat rasa takut mencengkam. Bagaimana Cody bisa tidak menyukai pria? Dia menyintai ayahnya! Apakah ada beberapa pria melakukan hal-hal buruk kepada anakku?!
     "Cody," kataku dengan santai. "Bisa kau ceritakan tentang karyamu disini?"
     "Ya," jawabnya, kemudian mengeja setiap kata dengan perlahan-lahan, "I... don't...like...mean". (Aku... tidak... suka... jahat).
     Ini dunia bunyi, menulis kata seperti bunyinya.
     Latihan ini memperjelas bagaimana anak-anak kita memandang dunia, yang dibagi menjadi dua kelas: baik dan buruk.
     Bagi mereka tampang tidak menjadi masalah. Yang ada hanya baik dn buruk. Misalnya saja tetangga kami. Dia adalah orang yang baik, suka memberi hadiah kepada anak-anak ketika mereka berhak mendapatkannya. Dan berandalan di bus yang memukul perut Cody...
    "Dia jahat, Bu!" tangis Cody. "Dia anak yang nakal!"
    "Dia bukan anak yang nakal," jawabku, mengeringkan air matanya. "Tetapi PERBUATANNYA yang nakal. Jadi ada bedanya."
    Itulah yang diajarkan oleh sebuah majalah. Dan itu masuk akal, kampanye massal ini bertujuan membuat kita "mendahulukan manusianya."
    Orang dengan atau tanpa kecacatan.
    Orang dengan atau tanpa penghasilan tetap.
    Dengan atau tanpa rumah.
    Dengan atau tanpa kebaikan.
    Mendahulukan manusia.
    Tetapi aku ragu apakah Cody memahami logikaku.
    Sampai suatu sabtu pagi yang hangat.
    Aku dan Cody tiba di restoran pizza di mana teman kelasnya, Kristi, merayakan ulang tahunnya.
    "Cody!" teriak Kristi dengan gaun merah mudanya berjalan ke arah Cody, rambut pirangnya yang tebal dikepang satu. Dia begitu gembira saat memeluk Cody.
    "Wah, Kristi," kataku, "kau cantik sekali!"
    "Terima kasih," jawabnya sambil berputar. "Ayo kita main, Cody!"
    Cody, yang tidak ragu meski dia adalah stu-satunya anak lelaki ditengah kerumunan tamu, dengan gembira berpindah dari satu permainan ke permainan lainnya, memasukkan tiketnya ke dalam mesin.
    Ketika beberapa pizza diantar ke meja-meja yang dihias balon, Kristi sengaja meminta Cody untuk duduk di sebelahnya. Ketika Cody meminta lemonade merah muda, Kristi memberitahu pramusaji, dengan nada otoritas disuaranya, "Aku juga memesan apa yang dia pesan."
    Ketika tiba waktunya membuka kado, dia mengumumkan, "Aku ingin lebih dulu membuka kado dari Cody!"
    Cody menyerahkan kado kecilnya, sebuah mainan Ooglie berwarna merah jambu yang mengeluarkan suara lucu ketika orang menarik ekornya.
    "Itu untuk tas sekolahmu," kata Cody malu-malu.
    "Oh, aku suka sekali!" katanya gembira dan memeluk Cody. "Terima kasih".
    Sementara semua orang makan kue, Kristi mendekatiku dan berkata, "Bu Oliver, setiap hari di sekolah, Cody selalu baik padaku. Dialah satu-satunya yang tidak pernah jahat padaku."
    Aku menahan air mata. Bukan hanya karena gadis kecil itu cukup manis untuk memberitahuku kepekaan Cody kepada ibunya. Tetapi mengetahui betapa anak-anak bisa sangat kejam, terutama kepada gadis-gadis kurus yang memiliki tantangan--khusus seperti Kristi.
    Hatiku terasa sakit oleh arus perasaan bangga yang tiba-tiba mengalir.
    Yang bisa kupikirkan hanyalah, astaga, dia mengerti.
    Cody mengerti.
    Orangnya lebih dulu.
   
Sumber : Chicken Soup for the Soul

Izin untuk Tersenyum

Hari yang mendung tidaklah cocok untuk sifat periang.

- WILLIAM ARTHUR WARD -



Semua orang yang mengenalku dengan baik pasti menyebutku sebagai orang yang optimis. Aku percaya bahwa kita harus merangkul harapan dan menemukan sesuatu yang positif bahkan di dalam situasi yang tersulit sekalipun. Optimismeku tumbuh dari iman yang kuat dan pribadi pada Tuhan yang penuh kasih, yang menurutku sangat berminat pada rincian pribadi dari hidup kita dan bukan hanya pada hal-hal yang besar. Aku juga percaya bahwa segala sesuatu terjadi untuk alasan tertentu dan jika kita tetap membuka hati dan pikiran, sering kali Tuhan kita yang tidak kasat mata itu menjadi kasat mata, kadang-kadang dengan cara yang sangat jenaka!!
     Setelah mengatakan itu, aku harus jujur mengatakan bahwa orang optimis pun kadang-kadang kehilangan harapan. Inilah yang terjadi padaku suatu hari yang dingin dan mendung di bulan Januari. Aku merasa sangat terbebani oleh tantangan yang menyakitkan yang sedang kuhadapi di dalam kehidupan pribadiku. Pergolakan pernikahan, kesehatan, dan keuangan telah bersekutu untuk menciptakan badai emosi yang mengancam akan menghancurkan semangatku. Aku merasa marah, frustasi, terbebani, dan menjauh dari Tuhan. Saat cuaca seolah-olah mencerminkan perasaan hatiku---langit kelabu menghalangi semua sinar matahari. Sambil menyeret diri menjalani hari kerja, aku tidak bisa melepaskan perasaan putus asa.
     Di sekitar tengah hari, aku meninggalkan kantor untuk makan siang. Dengan masih merasa pesimis dan negatif, aku melihat matahari telah muncul sesaat. Aku mulai memikirkan sikap negatifku dan mengingat diri bahwa aku bertannggung jawab untuk situasi pikiranku sendiri. Meski tidak bisa mengabaikan kepedihan yang sedang kualami, aku bisa memilih berkubang di dalam negativitas atau aku bisa memilih untuk menggeser pikiran ke fokus yang lebih positif. Jadi, aku menggenggam gagang setir kuat-kuat dan berdoa dengan jujur dan sepenuh hati, "Tuhan," jeritku, dan air mata sudah mulai menggenang, "Di manakah Engkau? Aku tidak ingin merasa seperti ini tetapi hari ini aku merasa sangat sedih dan putus asa. Tolong angkat aku dari tempat yang gelap dan murung ini!"
     Saat berhenti di lampu merah, aku memandang mobil yang berada di depanku. Plat nomornya menarik perhatianku---di situ tertulis, "SUNZOUT" (matahari sedang muncul). Ini langsung membuatku tersenyum. Aku merasa seolah-olah Tuhan mengingatkan bahwa bagaimanapun matahari sedang bersinar, dan di tengah musim dingin yang terpanjang, tergelap, terdingin dalam beberapa tahun terakhir, ini sudah merupakan berkat tersendiri. Tetapi kemudian mataku beralih ke mobil yang tepat berada disisi mobil SUNZOUT. Plat nomornya berbunyi "GROUCH" (tukang mengomel). 
     Jadi, aku membaca kedua plat nomor ini keras-keras, "SUNZOUT, GROUCH." Dan ini membuatku tertawa terbahak-bahak!! Melihat dua plat nomor yang saling berlawanan pada saat yang bersamaan ini menguatkan kesadaran sebelumnya tentang kemampuanku untuk memilih cara pandangku terlepas dari situasi yang ada. Aku merasa semangat dan suasana hatik terangkat ketika aku membuat keputusan yang disadari untuk memilih sikap yang positif.
     Aku kembali ke kantor dan menceritakan kisahku kepada beberapa rekan kerja yang merespons dengan tawa yang hangat pada apa yang kusebut sebagai "pesan dari yang di atas". Hari itu aku belajar bahwa ketika kita merasa tidak mampu mengeluarkan diri dari suasana hati dan pikiran yang negatif, peredaannya hanya sejauh doa!!

Sumber : Chicken Soup for the Soul

Kata - Kata Bijak

Senin, 07 April 2014

Aku tidak suka orang itu, maka aku harus mengenalnya dengan lebih baik. 

- ABRAHAM LINCOLN -

Hari itu adalah hari pertama setelah aku berhenti mengajar di ruang kelas untuk menjadi koordinator siswa sekolah lanjutan. Aku bertanya kepada seorang ibu yang sedang pensiun dari jabatan itu tentang bagaimana selama ini dia menghadapi kepala sekolah yang berpikiran sempit dan sangat negatif di dalam pendekatannya dengan para guru.
    Jawabannya sangat positif dan indah sehingga aku langsung menganutnya. Jawaban itu menghemat berjam-jam frustasi dan menjadi jalan keluar untuk konflik di sepanjang hidupku.
    Dia menjawab sederhana : " Aku berdoa untuknya. Sangat sulit untuk tidak menyukai seseorang yang kita doakan."

Sumber : Chicken Soup for the Soul